BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infestasi
kutu manusia disebabkan oleh kutu pengisap dari ordo Anaplura dan terbatas pada
kutu kepala (pediculus capitis), kutu badan (p.humanus), dan kutu pubis
(phthirus pubis). Semua kutu manusia memiliki riwayat hidup yang serupa. Kutu
badan tidak menempelkan telurnya kerambut manusia melainkan ke serat-serat,
terutama kelim pakaian, meskipun telur kadang-kadang dapat ditemukan pada
rambut dada dan perut. Kutu kecil berwarna putih krem (nits) terfiksasi ke
rambut atau serat dengan lem yang hampir tak dapat dirusak. Pada suhu tubuh,
telur menetas dalam 4-14 hari. Setiap stadium nimfe menyerupai dewasa tetapi
lebih kecil dan menjadi dewasa dalam kira-kira 1 bulan. Kutu kepala dan kutu
badan serupa penampakannya, yaitu memanjang. Kutu bisa berpindah dari satu
hospes ke hospes lain dengan kontak perorangan yang erat.
1.2 Rumusan Masalah
1)
Apakah yang
dimaksud dengan kutu badan?
2)
Bagaimana gejala
yang terjadi pada orang yang terkena penyakit kutu badan?
3)
Bagaiman konsep
asuhan keperawatan nya?
1.3 Tujuan
1)
Untuk mengetahui
apa itu kutu badan
2)
Untuk mengetahui
tanda gejala kutu badan
3)
Untuk mengetahui
konsep dasar asuhan keperawatan diare pada anak
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Pediculus korporis merupakan infestasi kutu pediculus humanus corporis
pada badan. Keadaan ini menghinggfapi orang yang jarang mandi atau yang hidup
dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah mengganti bajunya.
2.2 Etiologi
Penyakit pedikulosis disebabkan oleh parasit Pediculus
yang biasa kita kenal dengan kutu.Kutu hampir tak dapat dilihat, merupakan
serangga tak bersayap yang mudah menular dari orang ke orang melalui kontak
badan dan karena pemakaian bersama baju atau barang lainnya.Ada beberapa kutu
yang menyebabkan pedikulosis, seperti kutu kepala juga kutu badan.
Kutu kepala sangat mirip dengan kutu badan, meskipun
sebenarnya merupakan spesies yang berlainan.Kutu kemaluan memiliki badan yang
lebih lebar dan lebih pendek dibandingkan kutu kepala dan kutu badan.
1.2
Epidemologi
a.
Tuma parasit obligat manusia
b.
Kosmopolit tidak dipengaruhi musim
c.
Insiden: kebersihan (org dan lingk),
sosial ekonomi
d.
Penularan. Melalui Kontak langsung
erat (tmsk STD) dan Melalui alat-alat a.l topi, sisir, tempat tidur, dll
e.
Di EROPA tuma sebagai vektor dari:
Ricketsia: Tifus epidemik, demam parit
Spirochaeta (Borrelia recurrentis) menyebabkan demam berulang
Spirochaeta (Borrelia recurrentis) menyebabkan demam berulang
1.3 Patofisiologi
Siklus hidup Pediculus melalui stadium telur, larva,
nimfa dan dewasa.Parasit ini bisa hidup pada tubuh atau padaislakutu kepala
betina dapat hidup selama 16 hari dan menghasilkan 50 – 150 telur. Kutu
mendapatkan makanan dengan cara menghisap darah pada kulit. Hama ini
meninggalkan telurnya dipermukaan kulit dan juga menempel pada batang rambut,
baik itu di daerah kepala, badan ataupun pubis manusia.Kutu manusia
menyuntikkan getah pencernaan dan ekskreatanya ke dalam kulit yang menimbulkan
rasa gatal yang hebat.Kutu sangat subur pada kondisi yang padat penduduknya.
Kutu kepala dan kutu kemaluan hanya ditemukan pada
manusia, sedangkan kutu badan juga sering ditemukan pada pakaian yang bersentuhan
dengan kulit.Kutu kepala ditularkan melalui kontak langsung atau melalui
sisir/sikat/topi yang digunakan bersama-sama. Infestasi kutu kepala kadang
menyebar ke alis, bulu mata dan janggut. Kutu kepala sering ditemukan pada
murid-murid disatu sekolah.
Penularan kutu badan tidak semudah penularan kutu
rambut.Kutu badan biasanya menyerang orang-orang yang tingkat kebersihan
badannya buruk dan orang-orang yang tinggal di pemukiman yang padat.Kutu badan
bisa membawa penyakit tifus, demam parit dan demam kambuhan.Kutu kemaluan
menyerang daerah kemaluan, ditularkan pada saat melakukan hubungan seksual.
1.4
Manifestasi Klinis
Daerah kulit yang terutama terkena adalah bagian yang
paling terkena pakaian dalam (yaitu leher, badan, dan paha). Kutu badan
terutama hidup dalam pelipit pakaian dan di tempat ini, kutu melekat erat
sementara menusuk kulit penderita dengan probosisnya. Gigitan kutu menyebabkan
titik-titik pendarahan yang kecil dan khas. Ekskoriasi yang menyebar luas dapat
terlihat sebagai akibat dari rasa gatal dan perbuatan menggaruk yang intensif,
khususnya pada badan dan leher. Diantara lesi sekunder yang ditimbulkan
terdapat guratan linier garukan yang pararel dan ekzema dengan derajat ringaan.
Pada kasus yang menahun, kulit pasien menjadi tebal, kering dan bersisik dengan
daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap.
1.5 Penatalaksanaan
Kepada pasien diminta untuk mandi
dengan memakai sabun dan air. Kemudian, lindane (kwell) atau malation dalam
isoprofil alkohol (losion Prioderm).dioleskan pada daerah-daerah kulit yang
terinfeksi dan daerah yang berambut menurut petunjung informasi produk.terapi
topikal alternatif lainnya adalah pedikulida berbahan dasar piretin (RID yang
merupakan preparat yang bisa dibeli bebas) atau tembaga oleat 0,03 % (cuprex). Jika bulu mata turut terkena,
vaselin dapat dioleskan tebal-tebal 2 kali sehari selama 18 hari yang kemudian
diikuti oleh pencabutan secara mekkanis setiap telur kutu yang masih
tertinggal.
1.
Pengobatan
Permethrin
merupakan pengobatan kutu yang paling aman, paling efektif dan paling
nyaman.Lindane (tersedia dalam bentuk krim, losyen atau shampoo) juga bisa
mengatasi kutu tetapi tidak dapat diberikan kepada anak-anak karena bisa
menimbulkan komplikasi neurologis.
Kadang digunakan piretrin.Ketiga obat tersebut bisa menimbulkan iritasi.10 hari setelah pemakaian, ketiga obat tersebut harus dioleskan kembali untuk membunuh kutu yang baru menetas. Infestasi pada alis atau bulu mata sulit untuk diobati, kutu biasanya diambil dengan menggunakan tang khusus. Jeli minyak polos bisa membunuh atau melemahkan kutu di bulu mata.
Jika sumber infestasi (sisir, topi, pakaian dan seprei) tidak dibersihkan melalui pencucian, penguapan atau dry cleaning, maka kutu bisa bertahan hidup dan kembali menginfeksi manusia.
Kadang digunakan piretrin.Ketiga obat tersebut bisa menimbulkan iritasi.10 hari setelah pemakaian, ketiga obat tersebut harus dioleskan kembali untuk membunuh kutu yang baru menetas. Infestasi pada alis atau bulu mata sulit untuk diobati, kutu biasanya diambil dengan menggunakan tang khusus. Jeli minyak polos bisa membunuh atau melemahkan kutu di bulu mata.
Jika sumber infestasi (sisir, topi, pakaian dan seprei) tidak dibersihkan melalui pencucian, penguapan atau dry cleaning, maka kutu bisa bertahan hidup dan kembali menginfeksi manusia.
2.
Tindakan keperawatan
Pada
penderita Pedikulosis kapitis terapinya mencakup pengeramasan rambut memakai
sampo yang mengandung lindane (Kwell) atau senyawa piretrin dengan piperonil
butoksida ( sampo RID atau R&C ). Kepada pasien dianjurkan untuk mengeramas
kulit kepala dan rambut menurut petunjuk pemakain sampo tersebut.Sesudah
dibilas sampai bersih, rambut disisir dengan sisis bergigi halus (serit) yang
sudah dicelupkan dalam cuka agar telur atau cangkar telur tuma yang tertinggal
dapat terlepas dari batang rambut. Telur tuma sangat sulit dilepas dan mungkin
harus diambil dengan jari tangan satu per satu ( karena itu, orang awam memakai
istilah “ mencari kutu”. Semua barang, pakaian, handuk dan perangkat tempat
tidur yang bisa mengandung tuma atau telurnya harus
dicuci dengan air panas sedikitnya dengan suhu 54oC atau dicuci kering untuk
mencegah infestasi ulang.Perabot, permadani dan karpet yang berbulu harus
sering dibersihkan dengan alat vacum cleaner.Sisir dan sikat rambut juga harus
didisinfeksi dengan sampo.Semua anggota keluarga dan orang yang berhubunagn
erat dengan pasien harus diobati. Komplikasi seperti pruritas yang hebat,
pioderma ( infeksi kulit yang membentuk pus ) dan dermatitis diobati dengan
preparat antipruritus, antibiotik sistemik serta kortikosteroid tropikal.
Sedangkan pada penderita Pedikulosis korporis dan
Pedikulosis pubis, kepada pasien diminta untuk memakai sabun dan air.Kemudian,
lindane (Kwell) atau melation dalam isopropil alkohol (losion Prioderm)
dioleskan pada daerah-daerah kulit yang terenfeksi dan daerah yang berambut
menurut petunjuk informasi produk. Terapi topikal alternatif lainnya adalah
pedikulida berbahan dasar piretrin (RID yang merupakan preparat yang bisa
dibeli bebas) atau tembaga oleat 0,03% (Curpex). Jika bulu mata turut terkena
vaseline dapat dioleskan tebal-tebal dua kali sehari selama 8 hari yang
kemudian diikuti oleh pencabutan secara mekanis setiap telur kutu yang
tertinggal. Komplikasi, seperti pruritis hebat, pioderma (infeksi yang
membentuk pus pada kulit) dan dermatitis diobati dengan preparat antipruritis,
antibiotik sistemik serta kortikosteroid topikal.Perlu diingat bahwa kutu badan
dapat menularkan penyakit epedemik pada manusia, yaitu penyakit riketsia (tifus
epidemik, demam hilang timbul dan trench fever).Mikroorganisme penyebabnya
berada dalam traktus gastrointestinal serangga tersebut dan dapat diekskresikan
ke permukaan kulit pasien yang terinfeksi.
3.
pendidikan pasien dan perawatan
dirumah
Semua anggota keluarga dan suami istri pasien harus
diobati serta mendapatkan penyuluhan mengenal hygiene perorangan dan cara-cara
untuk mencegah atau mengendalikan infestasi kutu. Untuk pasien dan pasangan
seksualnya harus dibuatkan pula jadwal untuk pemeriksaan diagnostik terhadap
penyakit menular seksual yang turut menginfeksi semua pakaian dan perangkat
tempat tidur (seperti sprei, bantal, ddl). Harus dicuci serta menjalain
dry-cleaning.
1.6 Klasifikasi
Ada 3 jenis
kutu yang menyerang mausia,yaitu:
1.
Pedikulosis kapitis
Pedikulosis
kapitis merupakan infestasi kutu kepala atau tuma yang disebut Peduculus
humanus capitis pada kulit kepala. Tuma betina akan meletakkan telur-telurnya
(nits) di dekat kulit kepala. Telur ini akan melekat erat pada batang rambut
dengan suatu substansi yang liat. Telur akan menetas menjadi tuma muda dalam
waktu sekitar 10 hari dan mencapai maturasinya dalam tempo 2 minggu.
2.
Pedikulosis korporis
Pedikulosis
Korporis merupakan infestasi kutu pediculus humanus corporis pada badan.Keadaan
ini menghinggapi orang yang jarang mandi atau yang hidup dalam lingkungan yang
rapat serta tidak pernah mengganti bajunya.
3.
Pedikulosis pubis
Pedikolisis pubis, yang merupakan
infestasi oleh phthirus pubis( crab louser; kutu kemaluan ) sangat sering
dijumpai. Infestasi parasit ini umumnya terjadi di daerah genital dan terutama
ditularkan lewat hubungan seks.
1.7 Penegakan Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil
pemeriksaan fisik (ditemukan kutu).Kutu betina melepaskan teluar berwarna
abu-abu keputihan yang berkilau dan tampak sebagai butiran kecil yang menempel
di rambut.
Kutu badan dewasa dan telurnya tidak hanya ditemukan
pada rambut badan, tetapi juga pada lipatan baju yang bersentuhan dengan
kulit.Kutu kemaluan meninggalkan kotoran berwarna coklat tua di pakaian
dalam.Kutu kemaluan sulit ditemukan dan bisa terlihat sebagai bintik kecil
kebiruan di kulit.Telurnya menempel di dasar rambut, sangat dekat dengan kulit.
1.8 Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi akibat gatal yang
digaruk kemudian terjadi infeksi yang bila dibiarkan akan keluar nanah.
Kemudian timbul impetigo yaitu inflamasi kulit yang akut dan menular, yang
ditandai oleh pustula dan skuama.komplikasi seperti pruritus hebat, pioderma
atau infeksi yang membentuk pus pada kulit dan derematitis di obati dengan
preparat anti pruritus, antibiotik sistemik serta kortikosteroid topikal. Perlu
diingat bahwa kutu badan dapat menularkan penyakit epidemik pada manusia, yaitu
penyakit riketsia (tifus epidemik, demam hilang timbul dan trensfever).
Mikroorganisme penyebabnya berada dalam traktus gastrointestinal serangga
tersebut dan dapat diekskresikan ke permukaan kulit pasien yang terinfeksi.
1.10 Pencegahan
1.10 Pencegahan
Penyakit ini pada dasarnya dapat dicegah melalui pola
hidup yang bersih.Misalnya dengan pemberantasan kutu yang berada dilingkungan
sekitar.Benda-benda yang terpapar dengan penderita (misalnya, kasur, bantal,
linen, handuk, mainan, topi) seharusnya dicuci bila memungkinkan kemudian
dikeringkan.Air yang digunakan adalah air panas dengan suhu lebih dari 50-55°C
selama paling kurang 5 menit.
Membersihkan lingkungan tempat tinggal akan membantu
mengurangi kesempatan untuk terpapar kembali dengan kutu kepala. Periksalah
setiap orang yang berada didalam lingkungan rumah tangga pada saat bersamaan,
sebelum membersihkan lingkungan tersebut.Bersihkan semua lantai dengan alat
penghisap debu, permadani, bantal, karpet, dan semua pelapis meubel yang ada.
Semua sisir dan sikat rambut yang digunakan oleh penderita kutu kepala harus di
rendam dalam air dengan suhu diatas 130°F (540C), alkohol atau pedikulosid
selama 1 jam.
Penjelasan kepada anak-anak terutama tentang cara
mencegah penularan melalui penggunaan topi, sisir, dan bandana bersama juga
dapat dipertimbangkan. Menyediakan tempat penyimpanan barang-barang milik anak
secara terpisah di dalam ruang kelas juga dapat mencegah penyebaran kutu ini.
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
A. BIODATA
1. Identitas Klien
Nama :
Tn. R
Umur : 22 tahun
Jenis kelamin : Laki - laki
Status
mariental : Belum Menikah
Agama :
Islam
Pendidikan :
Sekolah Dasar
Pekerjaan :
swasta
Suku
Bangsa :
Indonesia
Alamat :
Kp. Pasagi serut, Ds. Sindangheula Kec. Pabuaran
No. Medrek :
614168
R. rawat :
Dahlia
Dx. Medis :
Kutu Badan
Tanggal masuk :
29 Februari 2016
Tanggal pengkajian :
01 Maret 2016
2. Penanggung
jawab
Nama :
Tn. S
Umur :
30 tahun
Alamat :
Pendidikan :
Pekerjaan :
pegawai
Hubungan dengan pasien :
Kaka Kandung
B. RIWAYAT KESEHATAN
1.
Keluhan utama
Klien mengatakan gatal-gatal pada badannya
2.
Riwayat kesehatan sekarang
Klien masuk RS dr.Drajat Prawira Negara
tanggal 15 september 2015, saat di IGD klien mengeluh gatal-gatal pada saat
dilakukan pengkajian pada tanggal 16 september 2015 jam 10.00 wib, pasien masih
mengeluh gatal-gatal tampak luka kemerah-merahan seperti bekas garukan pada
badannya.
Metode PQRST (untuk nyeri)
P :
gatal disebabkan karena adanya kutu pada badan
Q : klien mengatakan gatalnya seperti
bergerayam
R :gatal dirasakan diseluruh badan
S : klien mengatakan gfatal yangf dirasa
sangfat hebat
T : gfatal dirasakan setiap saat
3. Factor yang memperberat atau
mengurangi masalah
Faktor yang memperberat gatal ketika klien tidak mandi, faktor
yang mengurangi masalah yaitu dengan mandi air hangat
4. Riwayat kesehatan masa lalu
Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah
dirawat dan belum pernah mengalami penyakit ini
5. Riwayat
kesehatan sekarang
Pasien mengatakan gatal-gatal diseluruh
badannyaseperti menggereyam, dan pasien tidak mempunyai alergi obat-obatan
ataupun makanan
6. Riwayat
kesehatan keluarga
Pasien mengatakan di anggota keluarganya tidak
ada yang mengalami penyakit seperti yangb di derita pasien dan tidak ada yang
memiliiki penyakit keturunan seperti DM dan tidak ada yang memiliki penyakit
menular seperti TBC.
7. Pemeriksaan
fisik :
1. Tanda-tanda
vital
a. Keadaan
umum : pasien terlihat gatal-gatal
b. Kesadaran : compos mentis
c. Tekanan
darah : 120/80 mmHg
d. Nadi : 90x/menit
e. Suhu : 36,5 ̊̊̊̊̊̊̊̊ c
f. RR
: pernafasan normalnya 16-24x/mnt
2. Antropometri
BB : 65 kg
TB : 170 cm
1. Pemeriksaan
sistematika/persistem
A) Sistem
pernafasan
-
Inspeksi:
bentuk
hidung simetris, tidak adanya sekret pada hidung, tidak menggunakan otot pernapasan tambahan
-
Palpasi: tidak adanya nyeri tekan pada area dada
-
Auskultasi: tidak terdengar suara tambahan seperti bonkhi
B) Sistem
kardiovaskuler
- Inspeksi
: mukosa bibir lembab, tidak terdapat kelenjar getah bening, tidak terdapat
distensi vena jugularis, tidak terdapat clubbing finger.
- Palpasi
: CRT<2 detik
- Perkusi
: bunyi ICS 1-6 sebelah kiri pekak
- Auskultasi
: S1 dan S2 tidak terdapat suara tambahan
C) Sistem
pencernaan
- Inspeksi
: mukosa bibir ananemis, tidak terdapat stomatitis, turgor kulit abdomen
elastis, bentuk abdomen simetris
- Auskultasi:
bunyi bising usus normal 8-12x/menit
- Palpasi
: tidak terdapat nyeri tekan pada area abdomen, tidak terdapat asites
- Perkusi:
Bunyi perkusi abdomen timpani
D) Sistem
persyarafan
Nervus I (olfaktorius) : klien dapat mencium bau-bauan
Nervus II (optikus) : klien dapat melihat pada jarak 2m
Nervus III (okula
motorius) : klien dapat menggerakan bola mata kesamping
atas
Nervus IV (traklearis) : klien dapat menggerakkan bola mata ke atas dan kebawah normal
Nervus V (trigeminus) : pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya
reflek kedip
Nervus VI (abdusen) : klien dapat menggerakkan bola mata ke samping
Nervus VII (facialis) : klien dapat membedakan rasa manis dan asin
Nervus VIII (akustikus) : pendengaran klien baik saat ditanya oleh pengkaji
Nervus IX
(glosofaringeus) : klien dapat menelan dengan baik
Nervus X (vagus) : klien dapat membuka mulutnya dengan baik
Nervus XI (spinal
accesory) : klien lemah mengangkat bahu kanan dan kiri
Nervus XII (hipoglesal) :pergerakan klien lemah dan
tidak bebas
E) Sistem
penglihatan
Bentuk mata simetris, warna sklera putih,
tidak adanya kelainan pada mata,
F) Sistem
pendengaran
-inspeksi
: Bentuk telinga simetris, tidak terdapat lesi, tidak terdapat serumen
-palpasi
: tidak adanya nyeri tekan,
-ROM
: fungsi pendengaran baik
G) Sistem
perkemihan
Tidak
adanya nyeri tekan
H) Sistem
muskuloskeletal
Tidak ada Kerusakan
fungsi motorik, kekuatan otot tangan dan kaki tidak lemah/
lumpuh tidak terdapat atropi
Jari-jari tangan dan kaki normal.
I)
Sistem endokrin
Tidak
ada pembesaran getah bening, dan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
J) Sistem
integumen
Terdapat lesi diseluruh
badan dan tampak kemerahan.Terjadi gangguan pada kelenjar
keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi
kering, menebal, mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah, terdapat
kelainan berupa hipopigmentasi (seperti panu), bercak eritem (kemerah-merahan),
infiltrat (penebalan kulit), nodul (benjolan)
·
Pola kebiasaan
sehari-hari
|
No
|
Pola
|
Sebelum
sakit
|
Saat
sakit
|
|
1.
|
Makan dan minum
Frekuensi
Alergi
Makanan yang tidak disukai
Alat bantu makan
|
3x/hari
Tidak
ada
Tidak
ada
Tidak
ada
|
3x/hari
Tidak
ada
Tidak
ada
Tidak
ada
|
|
2.
|
Istirahat
dan tidur
Siang
Malam
|
±
2 jam
±
7 jam
|
±
2-3 jam
±
7-8 jam
|
|
3.
|
Personal
higiene
· Mandi
frekuensi
· Oral higiene
frekuaensi
· Cuci rambut
Frekuensi
|
3x/minggu
3x/minggu
1x/minggu
|
1x/hari
Tidak
pernah
Tidak
pernah
|
|
4.
|
Eliminasi
· BAK
Frekuensi
Warna
Penggunaan alat bantu
· BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi
|
±
3-5x/hari
Kuning jernih
Tidak
menggunakan
±
1-2x/hari
kuning
lunak
|
±
3-5x/hari
Kuning
jernih
Tidak
menggunakan
Tidak
tentu
Kuning
padat
|
|
5.
|
Pola
aktivitas
|
|
terbaring
|
A. Data
Psikologis
1. Status
emosi
Klien mampu mengontrol emosinya, jika pasien stres,
pasien selalu marah-marah
2. Kecemasan
klien
Klien mengatakan dengan sakit seperti ini pasien
merasa cemas, tingkat kecemasan klien sedang
3. Konsep
diri
a. Citra
tubuh : klien menyukai bagian bentuk tubuhnya yaitu hidung
b. Identitas
diri : klien merasa tidak puas menjadi dirinya sendiri
c. Peran
: peran klien di dalam keluarganya sebgai anak
d. Ideal
diri : klien berharap penyakit di deritanya bisa cepat sembuh
e. Harga
diri : klien merasa malu karena dia hanya seorang pengangguran
B. Data
Sosial
1. Pola
komunikasi
Pasien dapat berkomunikasi dengan dengn baik
2. Pola
interaksi
Pasien berinteraksi dengan keluarga dan perawat
dengan baik dan jelas
C. Data
Spiritual
Klien mengatakan pada saat sebelum sakit dapat
melaksanakan aktivitas ibada tetapi saat di rumah sakit aktivitas ibadah belum
dapat dilakukan karena alasan kondisinya.
D. Data
penunjang
E. Analisa
Data
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
keperawatan
|
|
1.
|
DS:
pasien mengatakan gatal pada kulit
DO:
kulit terlihat kemerah-merahan dan terdapat lesi
|
Gatal-gatal
Infasif
bakteri
Kemerah-merahan
dan lesi
Kerusakan
integrits kulit
|
Gangguan
rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
|
|
2
|
DS:
pasien mengtakan malu dengan keadaan badan yang seperti ini
Do:
kulit terlihat kemerah-merahan dn terdapat lesi
|
|
Gangguan
body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).
|
|
|
|
|
|
F. Diagnosa
keperawatan
1)
Gangguan rasa nyaman (gatal) berhubungan
dengan infeksi kutu.
2)
Gangguan body image berhubungan
dengan adanya penyakit (pedikulosis)
3)
Risiko kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan terjadinya infeksi berat pada kulit
4)
Perubahan pemeliharaan kesehatan
berhubungan dengan risiko penularan
5)
Kurang pengetahuan berhubungan dengan
penyakit, penyebab, pengobatan, dan pencegahan.
G.
Rencana
keperawatan
|
Diagnosa keperawatan
|
NOC
|
NIC
|
|
Gangguan
rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
|
setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien meraasa leebih nyaman
Kriteria hasil :
1)
Status lingkungn yng nyaman
2)
kualitas tidur dan istirahat adekuat,
3) Status kenymana meningkat
|
1.
Kaji kondisi kulit kepala, badan,
pubis.
2.
Anjurkan agar kulit pasien tetap
kering.
3.
Anjurkan pasien untuk menjaga
kebersihan pakaian, alat mandi, tempat tidur dan sisir.
4.
Anjurkan untuk membersihkan kepala
atau rambut minimal 2xseminggu
5.
Anjurkan untuk tidak menggaruk daerah
yang gatal tetapi diusap
6.
Kolaborasi medis untuk pemberian
obat untuk mengatasi gatal.
|
|
Gangguan
body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).
|
pasien
dapat menerima perubahan yang ada pada dirinya
Kriteria hasil:
a)
Mengidentifikasi kekuatan personal
b)
pengakuan terhadap perubahan
actual pada penampilan tubuh
c)
menggambarkan perubahan actual
pada fungsi tubuh
d)
memelihara hubungan social yang
dekat dan hubungan personal
Skala :
1.
Tidak pernah
2.
Jarang
3.
kadang-kadang
4.
sering
5.
positif
|
1. Beri motivasi untuk menerima keadaan dirinya
2. beri penjelasan bahwa penyakitnya dapat disembuhkan
3. jelaskan
pentingnya perawatan kulit termasuk kepala, badan, dan pubis
4. . berikan motivasi tentang percaya diri dan mencegah
isolasi social
|
H. Implementasi
|
Diagnosa
|
Implementasi
|
Paraf
|
|
Gangguan
rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
|
1.
Mengkaji kondisi kulit kepala,
badan, pubis.
2.
Menganjurkan agar kulit pasien
tetap kering.
3.
Menganjurkan pasien untuk menjaga
kebersihan pakaian, alat mandi, tempat tidur dan sisir.
4.
Menganjurkan untuk membersihkan
kepala atau rambut minimal 2xseminggu
5.
Menganjurkan untuk tidak menggaruk
daerah yang gatal tetapi diusap
6.
Berkolaborasi medis untuk
pemberian obat untuk mengatasi gatal.
|
|
|
Gangguan
body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).
|
1. Memberi motivasi untuk menerima keadaan dirinya
2. Memberi penjelasan bahwa penyakitnya dapat
disembuhkan
3. Menjelaskan pentingnya perawatan kulit termasuk
kepala, badan, dan pubis
4. Memberikan motivasi tentang percaya diri dan
mencegah isolasi social
|
|
I. Evaluasi
|
Diagnosa
|
Evaluasi
|
Paraf
|
|
Gangguan
rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
|
S
: pasien mengatakan sudah tidak gatal-gatal lagi
O
: paien terlihat lebih tenang
A
: masalah teratasi
P
: intervensi dihentikan
|
|
|
Gangguan
body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).
|
S
: pasien mengatakan sudah bisa menerima keadaan dirinya
O
: pasien tampak lebih tenang
A
: masalah teratasi
P
: intervensi dihentikan
|
|
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pedikulosis korporis merupakan
infestasi pediculus humanus corporis pada badan (kutu badan). Keadaan ini
menghinggapi orang yang jarang mandi
atau yang hidup dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah mengganti
bajunya (Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, E/8,
Vol.3)
Kutu badan adalah pemakan yang
sering mereka meninggalkan tempat tinggalnya dalam kelim pakaian dan berpindah
ke kulit serta manusuk kulit untuk menghisap darah. Daerah kulit yang terutama
terkena adalah bagian yang paling terkena pakaian dalam (leher, badan dan
paha). Kutu badan terutama hidup dalam pelipit pakaian. Gigitan kutu
menyebabkan titik-titik pendarahan yang kecil dan khas. Ekskoriasi yang
menyebar luas dapat terlihat sebagai akibat dari rasa gatal dan perbuatan
menggaruk yang intensif, khususnya pada badan serta leher
Badan yang gatal sebaiknya dikompres
dengan air hangat agar ridak timbul infeksi. Sebelum pakaian dicuci direndam
air hangat atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu yang berada dilipatan
pakaian. Jika ada infeksi sekunder bisa diberikan antibiotic sistemik atau
topikal.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Huda Nuratif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jilid 2
Brunner
& Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 3.
Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar