Selasa, 12 April 2016

Asuhan Keperawatan Kutu Badan




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
      Infestasi kutu manusia disebabkan oleh kutu pengisap dari ordo Anaplura dan terbatas pada kutu kepala (pediculus capitis), kutu badan (p.humanus), dan kutu pubis (phthirus pubis). Semua kutu manusia memiliki riwayat hidup yang serupa. Kutu badan tidak menempelkan telurnya kerambut manusia melainkan ke serat-serat, terutama kelim pakaian, meskipun telur kadang-kadang dapat ditemukan pada rambut dada dan perut. Kutu kecil berwarna putih krem (nits) terfiksasi ke rambut atau serat dengan lem yang hampir tak dapat dirusak. Pada suhu tubuh, telur menetas dalam 4-14 hari. Setiap stadium nimfe menyerupai dewasa tetapi lebih kecil dan menjadi dewasa dalam kira-kira 1 bulan. Kutu kepala dan kutu badan serupa penampakannya, yaitu memanjang. Kutu bisa berpindah dari satu hospes ke hospes lain dengan kontak perorangan yang erat. 

1.2  Rumusan Masalah
1)      Apakah yang dimaksud dengan kutu badan?
2)      Bagaimana gejala yang terjadi pada orang yang terkena penyakit kutu badan?
3)      Bagaiman konsep asuhan keperawatan nya?

1.3  Tujuan
1)      Untuk mengetahui apa itu kutu badan
2)      Untuk mengetahui tanda gejala kutu badan
3)      Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan diare pada anak





BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi 
            Pediculus korporis merupakan  infestasi kutu pediculus humanus corporis pada badan. Keadaan ini menghinggfapi orang yang jarang mandi atau yang hidup dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah mengganti bajunya.

2.2 Etiologi
Penyakit pedikulosis disebabkan oleh parasit Pediculus yang biasa kita kenal dengan kutu.Kutu hampir tak dapat dilihat, merupakan serangga tak bersayap yang mudah menular dari orang ke orang melalui kontak badan dan karena pemakaian bersama baju atau barang lainnya.Ada beberapa kutu yang menyebabkan pedikulosis, seperti kutu kepala juga kutu badan.
Kutu kepala sangat mirip dengan kutu badan, meskipun sebenarnya merupakan spesies yang berlainan.Kutu kemaluan memiliki badan yang lebih lebar dan lebih pendek dibandingkan kutu kepala dan kutu badan.

1.2 Epidemologi
a.       Tuma parasit obligat manusia
b.      Kosmopolit tidak dipengaruhi musim
c.       Insiden: kebersihan (org dan lingk), sosial ekonomi
d.      Penularan. Melalui Kontak langsung erat (tmsk STD) dan Melalui alat-alat a.l topi, sisir, tempat tidur, dll
e.       Di EROPA tuma sebagai vektor dari: Ricketsia: Tifus epidemik, demam parit
Spirochaeta (Borrelia recurrentis) menyebabkan demam berulang

1.3 Patofisiologi
Siklus hidup Pediculus melalui stadium telur, larva, nimfa dan dewasa.Parasit ini bisa hidup pada tubuh atau padaislakutu kepala betina dapat hidup selama 16 hari dan menghasilkan 50 – 150 telur. Kutu mendapatkan makanan dengan cara menghisap darah pada kulit. Hama ini meninggalkan telurnya dipermukaan kulit dan juga menempel pada batang rambut, baik itu di daerah kepala, badan ataupun pubis manusia.Kutu manusia menyuntikkan getah pencernaan dan ekskreatanya ke dalam kulit yang menimbulkan rasa gatal yang hebat.Kutu sangat subur pada kondisi yang padat penduduknya.
Kutu kepala dan kutu kemaluan hanya ditemukan pada manusia, sedangkan kutu badan juga sering ditemukan pada pakaian yang bersentuhan dengan kulit.Kutu kepala ditularkan melalui kontak langsung atau melalui sisir/sikat/topi yang digunakan bersama-sama. Infestasi kutu kepala kadang menyebar ke alis, bulu mata dan janggut. Kutu kepala sering ditemukan pada murid-murid disatu sekolah.
Penularan kutu badan tidak semudah penularan kutu rambut.Kutu badan biasanya menyerang orang-orang yang tingkat kebersihan badannya buruk dan orang-orang yang tinggal di pemukiman yang padat.Kutu badan bisa membawa penyakit tifus, demam parit dan demam kambuhan.Kutu kemaluan menyerang daerah kemaluan, ditularkan pada saat melakukan hubungan seksual.
1.4 Manifestasi Klinis

Daerah kulit yang terutama terkena adalah bagian yang paling terkena pakaian dalam (yaitu leher, badan, dan paha). Kutu badan terutama hidup dalam pelipit pakaian dan di tempat ini, kutu melekat erat sementara menusuk kulit penderita dengan probosisnya. Gigitan kutu menyebabkan titik-titik pendarahan yang kecil dan khas. Ekskoriasi yang menyebar luas dapat terlihat sebagai akibat dari rasa gatal dan perbuatan menggaruk yang intensif, khususnya pada badan dan leher. Diantara lesi sekunder yang ditimbulkan terdapat guratan linier garukan yang pararel dan ekzema dengan derajat ringaan. Pada kasus yang menahun, kulit pasien menjadi tebal, kering dan bersisik dengan daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap.

1.5 Penatalaksanaan
            Kepada pasien diminta untuk mandi dengan memakai sabun dan air. Kemudian, lindane (kwell) atau malation dalam isoprofil alkohol (losion Prioderm).dioleskan pada daerah-daerah kulit yang terinfeksi dan daerah yang berambut menurut petunjung informasi produk.terapi topikal alternatif lainnya adalah pedikulida berbahan dasar piretin (RID yang merupakan preparat yang bisa dibeli bebas) atau tembaga oleat 0,03 %  (cuprex). Jika bulu mata turut terkena, vaselin dapat dioleskan tebal-tebal 2 kali sehari selama 18 hari yang kemudian diikuti oleh pencabutan secara mekkanis setiap telur kutu yang masih tertinggal.

1.      Pengobatan
Permethrin merupakan pengobatan kutu yang paling aman, paling efektif dan paling nyaman.Lindane (tersedia dalam bentuk krim, losyen atau shampoo) juga bisa mengatasi kutu tetapi tidak dapat diberikan kepada anak-anak karena bisa menimbulkan komplikasi neurologis.
Kadang digunakan piretrin.Ketiga obat tersebut bisa menimbulkan iritasi.10 hari setelah pemakaian, ketiga obat tersebut harus dioleskan kembali untuk membunuh kutu yang baru menetas. Infestasi pada alis atau bulu mata sulit untuk diobati, kutu biasanya diambil dengan menggunakan tang khusus. Jeli minyak polos bisa membunuh atau melemahkan kutu di bulu mata.
Jika sumber infestasi (sisir, topi, pakaian dan seprei) tidak dibersihkan melalui pencucian, penguapan atau dry cleaning, maka kutu bisa bertahan hidup dan kembali menginfeksi manusia.
2.       Tindakan keperawatan
Pada penderita Pedikulosis kapitis terapinya mencakup pengeramasan rambut memakai sampo yang mengandung lindane (Kwell) atau senyawa piretrin dengan piperonil butoksida ( sampo RID atau R&C ). Kepada pasien dianjurkan untuk mengeramas kulit kepala dan rambut menurut petunjuk pemakain sampo tersebut.Sesudah dibilas sampai bersih, rambut disisir dengan sisis bergigi halus (serit) yang sudah dicelupkan dalam cuka agar telur atau cangkar telur tuma yang tertinggal dapat terlepas dari batang rambut. Telur tuma sangat sulit dilepas dan mungkin harus diambil dengan jari tangan satu per satu ( karena itu, orang awam memakai istilah “ mencari kutu”. Semua barang, pakaian, handuk dan perangkat tempat tidur yang bisa mengandung tuma atau telurnya harus dicuci dengan air panas sedikitnya dengan suhu 54oC atau dicuci kering untuk mencegah infestasi ulang.Perabot, permadani dan karpet yang berbulu harus sering dibersihkan dengan alat vacum cleaner.Sisir dan sikat rambut juga harus didisinfeksi dengan sampo.Semua anggota keluarga dan orang yang berhubunagn erat dengan pasien harus diobati. Komplikasi seperti pruritas yang hebat, pioderma ( infeksi kulit yang membentuk pus ) dan dermatitis diobati dengan preparat antipruritus, antibiotik sistemik serta kortikosteroid tropikal.
Sedangkan pada penderita Pedikulosis korporis dan Pedikulosis pubis, kepada pasien diminta untuk memakai sabun dan air.Kemudian, lindane (Kwell) atau melation dalam isopropil alkohol (losion Prioderm) dioleskan pada daerah-daerah kulit yang terenfeksi dan daerah yang berambut menurut petunjuk informasi produk. Terapi topikal alternatif lainnya adalah pedikulida berbahan dasar piretrin (RID yang merupakan preparat yang bisa dibeli bebas) atau tembaga oleat 0,03% (Curpex). Jika bulu mata turut terkena vaseline dapat dioleskan tebal-tebal dua kali sehari selama 8 hari yang kemudian diikuti oleh pencabutan secara mekanis setiap telur kutu yang tertinggal. Komplikasi, seperti pruritis hebat, pioderma (infeksi yang membentuk pus pada kulit) dan dermatitis diobati dengan preparat antipruritis, antibiotik sistemik serta kortikosteroid topikal.Perlu diingat bahwa kutu badan dapat menularkan penyakit epedemik pada manusia, yaitu penyakit riketsia (tifus epidemik, demam hilang timbul dan trench fever).Mikroorganisme penyebabnya berada dalam traktus gastrointestinal serangga tersebut dan dapat diekskresikan ke permukaan kulit pasien yang terinfeksi.
3.      pendidikan pasien dan perawatan dirumah
Semua anggota keluarga dan suami istri pasien harus diobati serta mendapatkan penyuluhan mengenal hygiene perorangan dan cara-cara untuk mencegah atau mengendalikan infestasi kutu. Untuk pasien dan pasangan seksualnya harus dibuatkan pula jadwal untuk pemeriksaan diagnostik terhadap penyakit menular seksual yang turut menginfeksi semua pakaian dan perangkat tempat tidur (seperti sprei, bantal, ddl). Harus dicuci serta menjalain dry-cleaning.

1.6 Klasifikasi
Ada 3 jenis kutu yang menyerang mausia,yaitu:
1.      Pedikulosis kapitis
Pedikulosis kapitis merupakan infestasi kutu kepala atau tuma yang disebut Peduculus humanus capitis pada kulit kepala. Tuma betina akan meletakkan telur-telurnya (nits) di dekat kulit kepala. Telur ini akan melekat erat pada batang rambut dengan suatu substansi yang liat. Telur akan menetas menjadi tuma muda dalam waktu sekitar 10 hari dan mencapai maturasinya dalam tempo 2 minggu.
2.      Pedikulosis korporis
Pedikulosis Korporis merupakan infestasi kutu pediculus humanus corporis pada badan.Keadaan ini menghinggapi orang yang jarang mandi atau yang hidup dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah mengganti bajunya.
3.      Pedikulosis pubis
Pedikolisis pubis, yang merupakan infestasi oleh phthirus pubis( crab louser; kutu kemaluan ) sangat sering dijumpai. Infestasi parasit ini umumnya terjadi di daerah genital dan terutama ditularkan lewat hubungan seks.

1.7  Penegakan Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (ditemukan kutu).Kutu betina melepaskan teluar berwarna abu-abu keputihan yang berkilau dan tampak sebagai butiran kecil yang menempel di rambut.
Kutu badan dewasa dan telurnya tidak hanya ditemukan pada rambut badan, tetapi juga pada lipatan baju yang bersentuhan dengan kulit.Kutu kemaluan meninggalkan kotoran berwarna coklat tua di pakaian dalam.Kutu kemaluan sulit ditemukan dan bisa terlihat sebagai bintik kecil kebiruan di kulit.Telurnya menempel di dasar rambut, sangat dekat dengan kulit.



1.8 Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi akibat gatal yang digaruk kemudian terjadi infeksi yang bila dibiarkan akan keluar nanah. Kemudian timbul impetigo yaitu inflamasi kulit yang akut dan menular, yang ditandai oleh pustula dan skuama.komplikasi seperti pruritus hebat, pioderma atau infeksi yang membentuk pus pada kulit dan derematitis di obati dengan preparat anti pruritus, antibiotik sistemik serta kortikosteroid topikal. Perlu diingat bahwa kutu badan dapat menularkan penyakit epidemik pada manusia, yaitu penyakit riketsia (tifus epidemik, demam hilang timbul dan trensfever). Mikroorganisme penyebabnya berada dalam traktus gastrointestinal serangga tersebut dan dapat diekskresikan ke permukaan kulit pasien yang terinfeksi.

1.10 Pencegahan
Penyakit ini pada dasarnya dapat dicegah melalui pola hidup yang bersih.Misalnya dengan pemberantasan kutu yang berada dilingkungan sekitar.Benda-benda yang terpapar dengan penderita (misalnya, kasur, bantal, linen, handuk, mainan, topi) seharusnya dicuci bila memungkinkan kemudian dikeringkan.Air yang digunakan adalah air panas dengan suhu lebih dari 50-55°C selama paling kurang 5 menit.
Membersihkan lingkungan tempat tinggal akan membantu mengurangi kesempatan untuk terpapar kembali dengan kutu kepala. Periksalah setiap orang yang berada didalam lingkungan rumah tangga pada saat bersamaan, sebelum membersihkan lingkungan tersebut.Bersihkan semua lantai dengan alat penghisap debu, permadani, bantal, karpet, dan semua pelapis meubel yang ada. Semua sisir dan sikat rambut yang digunakan oleh penderita kutu kepala harus di rendam dalam air dengan suhu diatas 130°F (540C), alkohol atau pedikulosid selama 1 jam.
Penjelasan kepada anak-anak terutama tentang cara mencegah penularan melalui penggunaan topi, sisir, dan bandana bersama juga dapat dipertimbangkan. Menyediakan tempat penyimpanan barang-barang milik anak secara terpisah di dalam ruang kelas juga dapat mencegah penyebaran kutu ini.





BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN
A.   BIODATA
1.   Identitas Klien
Nama                                       : Tn. R
       Umur                                       : 22 tahun
Jenis kelamin                           : Laki - laki
            Status mariental                      : Belum Menikah
Agama                                     : Islam
Pendidikan                              : Sekolah Dasar
Pekerjaan                                 : swasta
            Suku Bangsa                           : Indonesia
Alamat                                     : Kp. Pasagi serut, Ds. Sindangheula Kec. Pabuaran
No. Medrek                             : 614168
R. rawat                                   : Dahlia
Dx. Medis                               : Kutu Badan
Tanggal masuk                        : 29 Februari 2016
Tanggal pengkajian                 : 01 Maret 2016

2. Penanggung jawab 
Nama                                       : Tn. S
Umur                                       : 30 tahun
Alamat                                     :
Pendidikan                              :
Pekerjaan                                 : pegawai
Hubungan dengan pasien        : Kaka Kandung





B.     RIWAYAT KESEHATAN
1.      Keluhan utama
Klien mengatakan gatal-gatal pada badannya
2.      Riwayat kesehatan sekarang
Klien masuk RS dr.Drajat Prawira Negara tanggal 15 september 2015, saat di IGD klien mengeluh gatal-gatal pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 16 september 2015 jam 10.00 wib, pasien masih mengeluh gatal-gatal tampak luka kemerah-merahan seperti bekas garukan pada badannya.
Metode PQRST (untuk nyeri)
P          : gatal disebabkan karena adanya kutu pada badan
Q         : klien mengatakan gatalnya seperti bergerayam
R         :gatal dirasakan diseluruh badan
S          : klien mengatakan gfatal yangf dirasa sangfat hebat
T          : gfatal dirasakan setiap saat
3.      Factor yang memperberat atau mengurangi masalah
Faktor yang memperberat gatal ketika klien tidak mandi, faktor yang mengurangi masalah yaitu dengan mandi air hangat
4.      Riwayat kesehatan masa lalu
Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah dirawat dan belum pernah mengalami penyakit ini
5.      Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengatakan gatal-gatal diseluruh badannyaseperti menggereyam, dan pasien tidak mempunyai alergi obat-obatan ataupun makanan
6.      Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan di anggota keluarganya tidak ada yang mengalami penyakit seperti yangb di derita pasien dan tidak ada yang memiliiki penyakit keturunan seperti DM dan tidak ada yang memiliki penyakit menular seperti TBC.




7.      Pemeriksaan fisik :
1.      Tanda-tanda vital
a.       Keadaan umum     : pasien terlihat gatal-gatal
b.      Kesadaran             : compos mentis
c.       Tekanan darah       : 120/80  mmHg
d.      Nadi                      : 90x/menit
e.       Suhu                      : 36,5 ̊̊̊̊̊̊̊̊ c
f.       RR : pernafasan normalnya 16-24x/mnt
2.      Antropometri
BB                               : 65 kg
TB                               : 170 cm

1.      Pemeriksaan sistematika/persistem
A)    Sistem pernafasan
-    Inspeksi: bentuk hidung simetris, tidak adanya sekret pada hidung, tidak menggunakan otot pernapasan tambahan
-    Palpasi: tidak adanya nyeri tekan pada area dada
-    Auskultasi: tidak terdengar suara tambahan seperti bonkhi
B)    Sistem kardiovaskuler
-  Inspeksi : mukosa bibir lembab, tidak terdapat kelenjar getah bening, tidak terdapat distensi vena jugularis, tidak terdapat clubbing finger.
-  Palpasi : CRT<2 detik
-  Perkusi : bunyi ICS 1-6 sebelah kiri pekak
-  Auskultasi : S1 dan S2 tidak terdapat suara tambahan
C)    Sistem pencernaan
-  Inspeksi : mukosa bibir ananemis, tidak terdapat stomatitis, turgor kulit abdomen elastis, bentuk abdomen simetris
-  Auskultasi: bunyi bising usus normal 8-12x/menit
-  Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada area abdomen, tidak terdapat asites
-  Perkusi: Bunyi perkusi abdomen timpani
D)    Sistem persyarafan
Nervus I (olfaktorius)                      :  klien dapat mencium bau-bauan
Nervus II (optikus)                          :  klien dapat melihat pada jarak 2m
Nervus III (okula motorius)            :  klien dapat menggerakan bola mata kesamping atas
Nervus IV (traklearis)                      :  klien dapat menggerakkan bola mata ke atas dan kebawah normal
Nervus V (trigeminus)                     :  pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip
Nervus VI (abdusen)                       :  klien dapat menggerakkan bola mata ke samping
Nervus VII (facialis)                       :  klien dapat membedakan rasa manis dan asin
Nervus VIII (akustikus)                  :  pendengaran klien baik saat ditanya oleh pengkaji
Nervus IX (glosofaringeus)             :  klien dapat menelan dengan baik
Nervus X (vagus)                            :  klien dapat membuka mulutnya dengan baik
Nervus XI (spinal accesory)            :  klien lemah mengangkat bahu kanan dan kiri
Nervus XII (hipoglesal)                   :pergerakan klien lemah dan tidak bebas
E)     Sistem penglihatan
 Bentuk mata simetris, warna sklera putih, tidak adanya kelainan pada mata,
F)     Sistem pendengaran
-inspeksi : Bentuk telinga simetris, tidak terdapat lesi, tidak terdapat serumen
-palpasi : tidak adanya nyeri tekan, 
-ROM : fungsi pendengaran baik
G)    Sistem perkemihan
Tidak adanya nyeri tekan
H)    Sistem muskuloskeletal
Tidak ada Kerusakan fungsi motorik,  kekuatan otot tangan dan kaki tidak lemah/ lumpuh tidak terdapat atropi Jari-jari tangan dan kaki  normal.
I)       Sistem endokrin
Tidak ada pembesaran getah bening, dan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
J)       Sistem integumen
Terdapat lesi diseluruh badan dan tampak kemerahan.Terjadi gangguan pada kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering, menebal, mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah, terdapat kelainan berupa hipopigmentasi (seperti panu), bercak eritem (kemerah-merahan), infiltrat (penebalan kulit), nodul (benjolan)

·         Pola kebiasaan sehari-hari
No
Pola
Sebelum sakit
Saat sakit
1.
Makan dan minum
Frekuensi
Alergi
Makanan yang tidak disukai
Alat bantu makan

3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
2.
Istirahat dan tidur
Siang
Malam

±        2 jam
±        7 jam

±        2-3 jam
±        7-8 jam
3.
Personal higiene
·  Mandi
frekuensi
·  Oral higiene
frekuaensi
·  Cuci rambut
Frekuensi


3x/minggu

3x/minggu

1x/minggu


1x/hari

Tidak pernah

Tidak pernah
4.
Eliminasi
·   BAK
Frekuensi
Warna
Penggunaan alat bantu
·   BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi


±        3-5x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan

±        1-2x/hari
kuning
lunak


±        3-5x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan

Tidak tentu
Kuning
padat
5.
Pola aktivitas

terbaring





A.  Data Psikologis
1.      Status emosi
Klien mampu mengontrol emosinya, jika pasien stres, pasien selalu marah-marah
2.      Kecemasan klien
Klien mengatakan dengan sakit seperti ini pasien merasa cemas, tingkat kecemasan klien sedang
3.      Konsep diri
a.       Citra tubuh : klien menyukai bagian bentuk tubuhnya yaitu hidung
b.      Identitas diri : klien merasa tidak puas menjadi dirinya sendiri
c.       Peran : peran klien di dalam keluarganya sebgai anak
d.      Ideal diri : klien berharap penyakit di deritanya bisa cepat sembuh
e.       Harga diri : klien merasa malu karena dia hanya seorang pengangguran
B.  Data Sosial
1.      Pola komunikasi
Pasien dapat berkomunikasi dengan dengn baik
2.      Pola interaksi
Pasien berinteraksi dengan keluarga dan perawat dengan baik dan jelas
C.  Data Spiritual
Klien mengatakan pada saat sebelum sakit dapat melaksanakan aktivitas ibada tetapi saat di rumah sakit aktivitas ibadah belum dapat dilakukan karena alasan kondisinya.


D.  Data penunjang










E.   Analisa Data
No
Data
Etiologi
Masalah keperawatan
1.
DS: pasien mengatakan gatal pada kulit
DO: kulit terlihat kemerah-merahan dan terdapat lesi
Gatal-gatal
Infasif bakteri
Kemerah-merahan dan lesi
Kerusakan integrits kulit
Gangguan rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
2
DS: pasien mengtakan malu dengan keadaan badan yang seperti ini
Do: kulit terlihat kemerah-merahan dn terdapat lesi

Gangguan body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).






F.   Diagnosa keperawatan
1)      Gangguan rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
2)      Gangguan body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis)
3)      Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terjadinya infeksi berat pada kulit
4)      Perubahan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan risiko penularan
5)       Kurang pengetahuan berhubungan dengan penyakit, penyebab, pengobatan, dan pencegahan.


G.    Rencana keperawatan
Diagnosa keperawatan
NOC
NIC
Gangguan rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien meraasa leebih nyaman
Kriteria hasil :
1)      Status lingkungn yng nyaman
2)      kualitas tidur dan istirahat adekuat,
3)      Status kenymana meningkat  
1.      Kaji kondisi kulit kepala, badan, pubis.
2.      Anjurkan agar kulit pasien tetap kering.
3.      Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan pakaian, alat mandi, tempat tidur dan sisir.
4.      Anjurkan untuk membersihkan kepala atau rambut minimal 2xseminggu
5.      Anjurkan untuk tidak menggaruk daerah yang gatal tetapi diusap
6.      Kolaborasi medis untuk pemberian obat untuk mengatasi gatal.


Gangguan body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).

pasien dapat menerima perubahan yang ada pada dirinya
Kriteria hasil:
a)      Mengidentifikasi kekuatan personal
b)       pengakuan terhadap perubahan actual pada penampilan tubuh
c)      menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh
d)      memelihara hubungan social yang dekat dan hubungan personal
Skala :
1.      Tidak pernah
2.      Jarang
3.      kadang-kadang
4.      sering
5.       positif

1.      Beri motivasi untuk menerima keadaan dirinya
2.      beri penjelasan bahwa penyakitnya dapat disembuhkan
3.       jelaskan pentingnya perawatan kulit termasuk kepala, badan, dan pubis
4.      . berikan motivasi tentang percaya diri dan mencegah isolasi social




H.    Implementasi
Diagnosa
Implementasi
Paraf
Gangguan rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
1.      Mengkaji kondisi kulit kepala, badan, pubis.
2.      Menganjurkan agar kulit pasien tetap kering.
3.      Menganjurkan pasien untuk menjaga kebersihan pakaian, alat mandi, tempat tidur dan sisir.
4.      Menganjurkan untuk membersihkan kepala atau rambut minimal 2xseminggu
5.      Menganjurkan untuk tidak menggaruk daerah yang gatal tetapi diusap
6.      Berkolaborasi medis untuk pemberian obat untuk mengatasi gatal.



Gangguan body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).
1.    Memberi motivasi untuk menerima keadaan dirinya
2.    Memberi penjelasan bahwa penyakitnya dapat disembuhkan
3.    Menjelaskan pentingnya perawatan kulit termasuk kepala, badan, dan pubis
4.    Memberikan motivasi tentang percaya diri dan mencegah isolasi social




I.       Evaluasi
Diagnosa
Evaluasi
Paraf
Gangguan rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.
S : pasien mengatakan sudah tidak gatal-gatal lagi
O : paien terlihat lebih tenang
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

Gangguan body image berhubungan dengan adanya penyakit (pedikulosis).
S : pasien mengatakan sudah bisa menerima keadaan dirinya
O : pasien tampak lebih tenang
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan










BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Pedikulosis korporis merupakan infestasi pediculus humanus corporis pada badan (kutu badan). Keadaan ini menghinggapi  orang yang jarang mandi atau yang hidup dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah mengganti bajunya (Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, E/8, Vol.3)
            Kutu badan adalah pemakan yang sering mereka meninggalkan tempat tinggalnya dalam kelim pakaian dan berpindah ke kulit serta manusuk kulit untuk menghisap darah. Daerah kulit yang terutama terkena adalah bagian yang paling terkena pakaian dalam (leher, badan dan paha). Kutu badan terutama hidup dalam pelipit pakaian. Gigitan kutu menyebabkan titik-titik pendarahan yang kecil dan khas. Ekskoriasi yang menyebar luas dapat terlihat sebagai akibat dari rasa gatal dan perbuatan menggaruk yang intensif, khususnya pada badan serta leher
            Badan yang gatal sebaiknya dikompres dengan air hangat agar ridak timbul infeksi. Sebelum pakaian dicuci direndam air hangat atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu yang berada dilipatan pakaian. Jika ada infeksi sekunder bisa diberikan antibiotic sistemik atau topikal.








DAFTAR PUSTAKA


Amin Huda Nuratif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jilid 2
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 3. Jakarta : EGC




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar