BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari
purin yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel
tubuh. Peningkatan kadar asam urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh
manusia seperti perasaan linu-linu di daerah persendian dan sering disertai
timbulnya rasa nyeri yang teramat sangat bagi penderitannya. Penyakit ini
sering disebut penyakit gout atau lebih dikenal dengan penyakit asam urat
(Andry, 2009). Penyakit gout adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin
yang ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan kristal
urat monohidrat monosodium dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi
tulang rawan sendi, insiden penyakit gout sebesar 1-2%, terutama terjadi pada
usia 30-40 tahun dan 20 kali lebih sering pada pria daripada wanita (Muttaqin,
2008). Secara biokomiawi akan terjadi hipersaturasi yaitu kelarutan asam urat
di serum yang melewati ambang batasnya.
Keadaan
hiperurisemia akan beresiko timbulnya artritis gout, nefropati gout, atau batu
ginjal. Insiden gout di Indonesia menduduki urutan kedua setelah osteoartritis
(Dalimartha, 2008 dikutip dari penelitian Festy dkk).
Prevalensi
gout di Indonesia diperkirakan 1,6-13,6/100.000 orang, prevalensi ini meningkat
seiring dengan meningkatnya umur (Tjokroprawiro, 2007). Faktor risiko yang
menyebabkan orang terserang penyakit asam urat, Vitahealth (2007) adalah
genetik/riwayat keluarga, asupan senyawa purin berlebihan, konsumsi alkohol
berlebih, kegemukan (obesitas), hipertensi, gangguan fungsi ginjal dan
obat-obatan tertentu (terutama diuretika). Faktor-faktor tersebut diatas dapat
meningkatkan kadar asam urat, jika terjadi peningkatan kadar asam urat serta di
tandai linu pada sendi, terasa sakit, nyeri, merah dan bengkak keadaan ini
dikenal dengan gout. Gout termasuk penyakit yang dapat dikendalikan walaupun
tidak dapat disembuhkan, namun kalau dibiarkan saja kondisi ini dapat berkembang
menjadi artritis yang melumpuhkan (Charlish, 2009).
1.2
Rumusan Masalah
A. Apakah pengertian dari gout?
B. Bagaimana
etiologi dari gout?
C. Apa saja klasifikasi dari gout?
D. Bagaimana manifestasi klinis dari Gout?
E. Bagaimana patofisiologi dari Gout?
1.3
Tujuan
A.
Untuk
Mengetahui Pengertian
B.
Untuk
mengetahui Etiologi
C.
Untuk
Mengetahui Klasifikasi
D.
Untuk
mengetahui Manifestasi Klinis
E. Untuk
Mengetahui Patofisiologi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Gout adalah penyakit yang di
akibatkan metabolisme purin yang ditandai dengan hiperurikemi dan serangan
sinovitis akut berulang-ulang (chairuddin) penyakit ini paling sering menyerang
pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita pasca menopause. (Fauci,
Braunwald)
Gout (pirai) merupakan kelompok
keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic pada metabolism
purin (hiperurisemia). Pada keadaan ini bisa terjadi oversekresi asam urat atau
defek renal yang mengakibatkan penurunan ekskresi asam urat, atau kombinasi
keduanya.
2.2 Etiologi
Gangguan metabolic dengan meningkatnya
konsentrasi asam urat ini di timbulkan dari penimbunan kristal di sendi oleh
monosodium urat (MSU, gout) dan kalsium pirofosfat dihidrat (CPPD, pseudogout)
dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi. Klasifikasi gout dibagi 2 yaitu: (chairuddin, 2003).
1.
Gout Primer: dipengaruhi oleh factor genetik. Terdapat
produksi/sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.
2.
Gout Sekunder
a.
Pembentukan asam urat yang berlebihan
-
Kelainan mieloproliferatif (polisitemia, leukemia,
mieloma retikularis)
-
Sindroma Lech- Nyhan yaitu suatu kelainan akibat defisiensi
hipoxantin guanine fosforibosil transferase yang terjadi pada anak-anak dan
pada sebagian orang dewasa
-
Gangguan penyimpanan glikogen
-
Pada pengobatan anemia pernisiosa oleh karena maturasi sel
megaloblastik menstimulasi pengeluaran asam urat
b.
Sekresi asam urat yang berkurang misalnya pada:
-
Kegagalan ginjal kronik
-
Pemakain obat salsilat, tiazid, beberapa macam diuretik dan
sulfonamid
-
Keadaan-keadaan alkoholik, asidosis
laktik, hiperparatiroidis-
me dan pada
miksadema
Factor
predisposisi terjadinya gout yaitu, umur, jenis kelamin sering terjadi pada
pria, iklim, herediter, dan keadaan-keadaan yang menyebabkan timbulnya
hiperurikemia.
2.3 Epidemiologi
Gout artritis banyak diderita oleh laki-laki dan wanita
postmenopause, jarang padalaki-laki sebelum remaja dan wanita sebelum
menopause. Prevalensi gout meningkat seiring dengan bertambahnya usia yaitu
meningkat sampai 9% pada laki-laki dengan usia lebih dari80 tahun dan 6% pada
wanita. Konsentrasi serum urat pada laki-laki lebih besar 1 mg/dldari pada
wanita, tetapi setelah menopause level serum urat pada wanita meningkat
sehinggacenderung sama dengan laki-laki. Perbedaan serum urat pada laki-laki
dan wanita ini karena pengaruh hormon estrogennya. Pada saat premenopause
hormon estrogen ini menyebabkanklirens asam urat pada ginjal lebih efisien.
Peningkatan prevalensi gout juga bisa disebabkanoleh diet dan life style yang
kurang terkontrol, obesitas, hipertensi sindroma metabolik,trnsplantasi organ,
meningkatnya penggunaan obat-obatan seperti salicylate dan diuretik dosis
rendah.
2.4 Patofisiologi
Hiperurisemia
(konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih besar dari 7,0 mg/dl [SI: 0,4
) dapat (tetapi tidak selalu) menyebabkan
penumpukan Kristal monosodium urat. Serangan gout tampaknya berhubungan dengan
peningkatan atau penurunan mendadak kadar asam urat serum. Kalau Kristal urat
mengendap dalam sebuah sendi, respons inflamasi akan terjadi dan serangan gout
dimulai. Dengan serangan yang berulang-ulang,penumpukan Kristal natrium urat
yang dinamakan tofus akan mengendap di bagian perifer tubuh seperti ibu jari
kaki, tangan dan telinga. Nefrolitiasis urat (batu ginjal) deengan penyakit
renal kronis yang terjadi sekunder akibat penumpukan urat dapat timbul.
Gambaran
Kristal urat dalam cairan sinoval sendi yang asimtomatik menunjukan bahwa
faktor-faktor non Kristal mungkin berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal
monosodium urat yang ditemukan tersalut dengan immunoglobulin yang terutama
berupa IgG. IgG akan meningkatkan
fagositosis Kristal dan dengan demikian memperlihatkan aktivitas imunologik.
Pathwey
![]() |
|||
![]() |
|||
2.5 Manifestasi klinis
Terdapat 4 stadium perjalanan klinis
gout yang tidak diobati: (silvia A.price)
1. Stadium pertama
adalah hiperurikemia asimtomatik. Pada stadium ini asam urat serum laki-laki
meningkat dan tanpa gejala selain dari penigkatan asam urat serum.
2. Stadium kedua arthritis gout akut terjadi
awitan mendadak pembengkakan dan nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu
jari kaki dan sendi metatarsofalangeal.
3. Stadium ketiga
setelah serangan gout akut adalah tahap
interkritis. Tidak terdapat gejala-gejala pada tahap ini, yang dapat
berlangsung dari beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami
serangan berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
4. Stadium keempat
adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus meluas selama
beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradangan kronik akibat
kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit, dan kaku, juga pembesaran
dan penonjolan sendi bengkak
2.6 Pemeriksaan penunjang
1.
Kadar asam urat serum meningkat
2.
Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat
3.
Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.
Analisis cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi
menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis
5.
Sinar x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan
perubhan sendi
2.7 Penatalaksanaan
Preparat colchicine (oral atau
parenteral) atau NSAID, seperti indometasin, digunakan untuk meredakan serangan
akut gout. Penatalaksanaan medic hiperurisemia, tofus, penghancuran sendi dan
masalah renal biasanya dimulai setelah proses inflamasi akut mereda. Preparat
urikosurik seperti probenesid akan memperbaiki keadaan hiperurisemia dan melarutkan endapan urat. Alopurinol juga
merupakan obat yang efektif tetapi penggunaanya terbatas karena terdapat resiko
toksisitas. Kalau diperlukan penurunan kadar asam urat dalam serum, preparat
urikosurik merupakan obat pilihan. Kalau pasiennya beresiko untuk mengalami
insufisiensi renal atau batu ginjal (kalkuli renal), allopurinol merupakan obat
pilihan
|
obat
|
Kerja
dan pemakaian
|
Implikasi
keperawatan
|
|
colchicine
|
Mengurangi
penumpukan asam urat dan mengganggu pembentukan kinin serta leukosit sehingga
mengurangi inflamasi. Tidak mengubah kadar asam urat dalam serum atau urin.
Digunakan dalam penanganan akut dan kronik
|
Penatalaksanaan
akut: berikan ketika serangan pertama kali dimulai. Takaran ditingkatkan
sampai rasa nyeri merda atau terjadi diare.
Penatalaksanaan
kronik: penggunaan yang lama dapat menurunkan absorpsi vitamin B12,
menyebabkan gangguan gastrointestinal pada kebanyakan pasien.
|
|
Probenecid
(Benemid)
|
Preparat
urikosurik menghambat reabsorpsi urat dan meningkatkan ekskresi asam urat
dalam urin. Mencegah pembentukan tofus
|
Waspada
terhadap kemungkinan mual, ruam dan konstipasi
|
|
Alopurinol
(zyloprim)
|
Inhibitor
xanthin oksidase mengganggu proses pemecahan purin sebelum terbentuk asam
urat menghambat enzim xanthinoksidase karena menghalangi pembentukan asam
urat
|
Waspada
terhadap kemungkinan efek samping yang mencakup depresi sumsum tulang,
vomitus dan nyeri abdomen
|
2.8 KOMPLIKASI
Gout
berpotensi menyebabkan infeksi ketika terjadi ruptur tofus, batu ginjal,
hipertensi dan penyakit jantung lain (Kluwer, 2011).
2.9 Masalah yang lazim muncul
1.
Nyeri akut b.d agen cidera biologis pembengkakan sendi, melaporkan
nyeri secara verbal pada area sendi
2.
Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri persendian (kaku sendi)
3.
Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d perubahan kadar
elektrolit pada ginjal (disfungsi ginjal)
4.
Hipertermia b.d proses penyakit (peradangan sendi)
5.
Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit (nyeri pada sendi)
6.
Gangguan pola tidur b.d
7.
Kerusakan integritas jaringan b.d kelebihan
cairan peradangan kronik akibat adanya kristal urat
2.10 Disaharge planning
1.
Mengistirahatkan sendi yang nyeri
2.
Pemberian obat anti inflamasi
3.
Menghindarkan factor pencetus
4.
Minum 2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukan makanan
pembuat alkalis. Serta menghindari makanan yang mengandung purin tinggi
5.
Hindari minuman beralkohol karena dapat menimbulkan produksi asam
urat.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
a)
Biodata
Nama :
Umur :
usia pertengahan sampai usia lanjut
Jenis
kelamin : penyakit ini
paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita
pasca menopause Status mariental :
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan : pada
kenyataannya bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi
lemah.
Suku bangsa :
Alamat :
No. Medrec :
No. Rawat :
Dx. Medis :
Tgl. Masuk :
Tgl. Pengkajian :
Penanggung jawab
Nama :
Umur :
Pekerjaan :
Hubungan dengan pt :
b)
Keluhan
utama :
Pada pasien
yang mederita GOUT biasanya mengeluh nyeri yang luar biasa
c)
Riwayat
kesehatan sekarang :
Pengumpulan data dilakukan sejak munculnya
keluhan dan secara umum mencangkup awal gejala dan bagaimana gejala tersebut
berkembang. Penting ditanyakan berapa
lama pemakaian obat analgetik , allopurinol
d)
Riwayat
kesehatan masa lalu :
Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan
penyebab yang mendukung terjadinya gout ( misalnya penyakit ginjal lronis,
leukemia, hiperparatiroidsme ) masalah lain yang perlu ditanyakan adalah
pernahkah klien dirawat dengan msalah yang sama . kaji adanya pemakian
alcohol yang berlebihan, penggunaan obat
diuretic
e)
Riwayat
kesehatan keluarga :
Kaji adanya keluarga dari generasi
terdahulu yang emmpunyai keluhan yang
sama dengan klien karena klien gout dipengaruhi
oleh factor genetic. Ada prosuksi sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui
penyebabnya
f)
Pemeriksaan
fisik :
1.
Tanda-tanda
vital
a.
Keadaan
umum : compos mentis
b.
Kesadaran : *kualitatif
: CM s/d Coma, *kuantitatif: GCS
c.
Tekanan
darah : normalnya tekanan darah 120/80
d.
Nadi
: nadi normalnya 60-100x/mnt
e.
Suhu
: suhu normalnya
(pasien biasanya mengalami hipertermi)
f.
RR :
pernafasan normalnya 16-24x/mnt
2.
Antropometri
BB : pasien
biasanya mengalami peningkatan berat badan.
TB : tinggui
badan tidak berpengaruh
3.
Pemeriksaan
sistematika/persistem
A)
Sistem
pernafasan
- Inspeksi: bila tidak melibatkan
system pernapasan, biasanya ditemukan kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak
napas, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan.
-
Palpasi : taktil fremitus
seimbangkiridankanan
-
Perkusi :
Suararesonapadaseluruhlapangparu
-
Auskultasi: suaranapashilang/melemahpadasisi yang sakit,
biasanya di dapatsuararonkiataumengi.
B)
Sistem
kardiovaskuler
- Inspeksi : mukosa bibir lembab, tidak terdapat kelenjar getah
bening, tidak terdapat distensi vena jugularis, tidak terdapat clubbing finger.
- Palpasi : CRT<2 detik
- Perkusi : bunyi ICS 1-6 sebelah kiri pekak
- Auskultasi : S1 dan S2 tidak terdapat suara tambahan
C)
Sistem
pencernaan
- Inspeksi : mukosa bibir ananemis, tidak terdapat stomatitis, turgor
kulit abdomen elastis, bentuk abdomen simetris
- Auskultasi: bunyi bising usus normal 8-12x/menit
- Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada area abdomen, tidak
terdapat asites
- Perkusi: Bunyi perkusi abdomen timpani
D)
Sistem
persyarafan
Nervus
I (olfaktorius) : klien dapat mencium bau-bauan
Nervus
II (optikus) : klien dapat melihat pada jarak 2m
Nervus
III (okula motorius) : klien dapat menggerakan bola mata kesamping
atas
Nervus
IV (traklearis) : klien dapat menggerakkan bola mata ke atas dan
kebawah normal
Nervus
V (trigeminus) : pada
kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip
Nervus
VI (abdusen) : klien dapat menggerakkan bola mata ke samping
Nervus
VII (facialis) : klien dapat membedakan rasa manis dan asin
Nervus
VIII (akustikus) : pendengaran klien baik saat ditanya oleh
pengkaji
Nervus
IX (glosofaringeus) : klien dapat menelan dengan baik
Nervus
X (vagus) : klien dapat membuka mulutnya dengan baik
Nervus
XI (spinal accesory) : klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri
Nervus
XII (hipoglesal) : pergerakan
klien lemah dan tidak bebas
E)
Sistem
penglihatan
Bentuk mata
simetris, warna sklera putih, tidak adanya kelainan pada mata, reflek
mengedipkan mata normal, dapat merapatkan mata.
F)
Sistem
pendengaran
Bentuk telinga
simetris, tidak adanya nyeri tekan, tidak terdapat serumen, fungsi pendengaran
baik
G)
Sistem
perkemihan
Produksi urin biasanya
dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan, kecuali
penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke gijal berupa pielonefritis, batu
asam urat ,dan GGK yang akan menimbulkan perubahan fungsi pada sistem ini
H)
Sistem
muskuloskeletal
Pada pengkajian ini ditemukan Look: keluhan
nyeri sendi yang merupakan keluhan utama yang mendorong klien mencari
pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya).
Nyeri ini biasaya bertambah dengan gerakan dan
sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang
menimbulkan nyeri yang lebuh dibandingkan dengan gerakan yang lain. Deformitas
sendi (temuan tofus) terjadi dengan temuan salah satu pergelangan sendi secara
perlahan membesar. feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak. Move:
hambatan gerakan sendi biasanya semakin memberat
I)
Sistem
endokrin
Sering ditemukan keringat dingin, dan pusing
karena nyeri.
J)
Sistem
integumen
Kulit biasanya
mengalami perubahan warna menjadi merah pada area yang membengkak.
·
Pola
kebiasaan sehari-hari
|
No
|
Pola
|
Sebelum sakit
|
Saat sakit
|
|
1.
|
Makan
dan minum
Frekuensi
Alergi
Makanan
yang tidak disukai
Alat
bantu makan
|
3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
|
3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
|
|
2.
|
Istirahat dan tidur
Siang
Malam
|
±
2
jam
±
7
jam
|
±
2-3
jam
±
7-8
jam
|
|
3.
|
Personal higiene
· Mandi
frekuensi
· Oral higiene
frekuaensi
· Cuci rambut
Frekuensi
|
2x/hari
2x/hari
3x/minggu
|
1x/hari
Tidak pernah
Tidak pernah
|
|
4.
|
Eliminasi
· BAK
Frekuensi
Warna
Penggunaan
alat bantu
· BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi
|
±
3-5x/hari
Kuning
jernih
Tidak menggunakan
±
1-2x/hari
kuning
padat
|
±
2-4x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan
Tidak tentu
Kuning
padat
|
|
5.
|
Pola aktivitas
|
|
terbaring
|
A.
Data
Psikologis
1.
Status
emosi
Klien mampu
mengontrol emosinya, jika marah klien memilih untuk diam
2.
Kecemasan
klien
Tingkat
kecemasan klien sedang
3.
Konsep
diri
a.
Citra
tubuh : klien menyukai bagian bentuk tubuhnya yaitu mata
b.
Identitas
diri : klien merasa senang menjalani profesinya
c.
Peran
: peran klien di dalam keluarganya ( mis: ayah , ibu, anak)
d.
Ideal
diri : klien berharap penyakit di deritanya bisa cepat sembuh
e.
Harga
diri: klien di sekitar
B.
Data
Sosial
1.
Pola
komunikasi
Pasien dapat
berkomunikasi dengan jelas
2.
Pola
interaksi
Pasien
berinteraksi dengan keluarga dan perawat dengan baik dan jelas
C.
Data
Spiritual
Klien
mengatakan pada saat sebelum sakit dapat melaksanakan aktivitas ibada tetapi
saat di rumah sakit aktivitas ibadah belum dapat dilakukan karena alasan
kondisinya.
D.
Data
penunjang
1.
Kadar
asam urat serum meningkat
2.
Laju
sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat
3.
Kadar
asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.
Analisis
cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat
monosodium yang membuat diagnosis
5.
Sinar
x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubhan sendi
E.
Analisa
Data
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
keperawatan
|
|
1.
|
DS:
pasien mengatakan nyeri
DO:
pasien terlihat meringis
Skala
nyeri 8
|
Nyeri
hebat
|
nyeri berhubungan dengan
peradanagn/inflamasi
|
|
2
|
DS
: pasien mengatakan tidak bisa jalan
DO
: pasien tidak bisa berjalan
|
Hambatan mobilitas fisik
|
Kerusakan mobilitas fisik b.d
penurunan tonus otot
|
F. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri b.d inflamasi/peradangan
2. Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan
tonus otot
G.
Rencana keperawatan
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
Rasional
|
|
Nyeri
b.d inflamasi/peradangan
|
setelah dilakukan tindakan
keperawatan 1x24 jam proses inflamasi berhenti dan berangsur-angsur
sembuh.
Kriteria hasil :
-mampu mengontrol nyeri
- melaporkan bahwa nyeri berkurang
- mampu megenali nyeri
- menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
|
- Lakukan pengkajian nyeri secara
komperhensif termasuk lokasi karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presifitasi
- Lakukan teknik relaksasi napas
dalam
- Biarkan
pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk dikursi ,
tingkatkan istirahat tidur sesuai indikasi
- Berikan
massase yang lembut
- Libatkan
kembali aktivitas hiburan sesuai untuk aktivitas individu
- Kolaborasi dokter untuk pemberian
obat analgetik
|
- Membantu
dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan progam
- Pada
penyakit berat ini, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi cidera
- Meningkatkan
relaksasi/mengurangi tegangan otot
- Memfokuskan
kembali perhatian, emme berikan stimulasi,dan meningkatkan rasa percayadiri
|
|
Kerusakan mobilitas fisik b.d
penurunan tonus otot
|
Setelah dilakuakan tindakan keperawatan
selama 2x 24 jam kelemahan pasien dapat teratasi
Criteria
hasil : KO 5-5-5-5, pasien mengatakan tidak lemas
|
- Kaji
tingkat inflamasi / rasa sakit pada sendi
- Pertahankan
tirah baring/duduk jika perlu
- Bantu
dengan rentang gerak aktif-pasif
- Ubah
posisi dengan sering
|
- Tingkat
aktivitas bergantung pada perkembangan atau resolusi dari peradangan
- Istirahat
sistemik dianjurkan selama meksesarbasi akut dan seluruh fase penyakit yang
penting untuk mencegah kelelahan, memepertahankan kekuatan otot
- Mempertahankan
atau meningkatkan
Fungsi sendi, kekeuatan otot, dan
stamina umum
- Menghilangkan
tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi memepermudah perawatan diri dan
kemandirian pasien
|
F.
Evaluasi
|
Diagnosa Keperawatan
|
Evaluasi
|
Paraf
|
|
Nyeri
b.d inflamasi/peradangan
|
Nyeri berkurang
|
|
|
Kerusakan
mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot
|
Pasien mampu berjalan
|
|
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut
:
1.
Asam
urat adalah hasil akhir dari katabolisme (pemecahan) purin. Purin adalah salah
satu kelompok struktur kimia pembentuk DNA.
2.
Asam
urat dikeluarkan dalam tubuh melalui feses (kotoran) dan urin, tetapi karena
ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat yang ada menyebabkan kadarnya
meningkat dalam tubuh. Hal lain yang dapat meningkatkan kadar asam urat adalah
kita terlalu banyak mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung banyak purin.
Asam urat yang berlebih selanjutnya akan terkumpul pada persendian sehingga
menyebabkan rasa nyeri atau bengkak.
3.
Gejala
Asam Urat seperti ; kesemutan dan linu, nyeri terutama malam hari atau pagi
hari saat bangun tidur, sendi yang terkena asam urat terlihat bengkak,
kemerahan, panas dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.
4.2
SARAN
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan
beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan
mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :
1.
Dalam
melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana
keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis, pendokumentasian harus
jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.
2.
Dalam
rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan rheumatoid artritis
maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien
yang mengalami rheumatoid artritis.
DAFTAR PUSTAKA
·
Amin Huda Nuratif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jilid 2
·
Brunner dan suddath. 2001.
keperawatan medikal bedah edisi 8 vol.2. Jakarta: EGC
·
Elliot Chang Daly. 2009.
Patofisiologi. Jakarta : ECG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari
purin yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel
tubuh. Peningkatan kadar asam urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh
manusia seperti perasaan linu-linu di daerah persendian dan sering disertai
timbulnya rasa nyeri yang teramat sangat bagi penderitannya. Penyakit ini
sering disebut penyakit gout atau lebih dikenal dengan penyakit asam urat
(Andry, 2009). Penyakit gout adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin
yang ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan kristal
urat monohidrat monosodium dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi
tulang rawan sendi, insiden penyakit gout sebesar 1-2%, terutama terjadi pada
usia 30-40 tahun dan 20 kali lebih sering pada pria daripada wanita (Muttaqin,
2008). Secara biokomiawi akan terjadi hipersaturasi yaitu kelarutan asam urat
di serum yang melewati ambang batasnya.
Keadaan
hiperurisemia akan beresiko timbulnya artritis gout, nefropati gout, atau batu
ginjal. Insiden gout di Indonesia menduduki urutan kedua setelah osteoartritis
(Dalimartha, 2008 dikutip dari penelitian Festy dkk).
Prevalensi
gout di Indonesia diperkirakan 1,6-13,6/100.000 orang, prevalensi ini meningkat
seiring dengan meningkatnya umur (Tjokroprawiro, 2007). Faktor risiko yang
menyebabkan orang terserang penyakit asam urat, Vitahealth (2007) adalah
genetik/riwayat keluarga, asupan senyawa purin berlebihan, konsumsi alkohol
berlebih, kegemukan (obesitas), hipertensi, gangguan fungsi ginjal dan
obat-obatan tertentu (terutama diuretika). Faktor-faktor tersebut diatas dapat
meningkatkan kadar asam urat, jika terjadi peningkatan kadar asam urat serta di
tandai linu pada sendi, terasa sakit, nyeri, merah dan bengkak keadaan ini
dikenal dengan gout. Gout termasuk penyakit yang dapat dikendalikan walaupun
tidak dapat disembuhkan, namun kalau dibiarkan saja kondisi ini dapat berkembang
menjadi artritis yang melumpuhkan (Charlish, 2009).
1.2
Rumusan Masalah
A. Apakah pengertian dari gout?
B. Bagaimana
etiologi dari gout?
C. Apa saja klasifikasi dari gout?
D. Bagaimana manifestasi klinis dari Gout?
E. Bagaimana patofisiologi dari Gout?
1.3
Tujuan
A.
Untuk
Mengetahui Pengertian
B.
Untuk
mengetahui Etiologi
C.
Untuk
Mengetahui Klasifikasi
D.
Untuk
mengetahui Manifestasi Klinis
E. Untuk
Mengetahui Patofisiologi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Gout adalah penyakit yang di
akibatkan metabolisme purin yang ditandai dengan hiperurikemi dan serangan
sinovitis akut berulang-ulang (chairuddin) penyakit ini paling sering menyerang
pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita pasca menopause. (Fauci,
Braunwald)
Gout (pirai) merupakan kelompok
keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic pada metabolism
purin (hiperurisemia). Pada keadaan ini bisa terjadi oversekresi asam urat atau
defek renal yang mengakibatkan penurunan ekskresi asam urat, atau kombinasi
keduanya.
2.2 Etiologi
Gangguan metabolic dengan meningkatnya
konsentrasi asam urat ini di timbulkan dari penimbunan kristal di sendi oleh
monosodium urat (MSU, gout) dan kalsium pirofosfat dihidrat (CPPD, pseudogout)
dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi. Klasifikasi gout dibagi 2 yaitu: (chairuddin, 2003).
1.
Gout Primer: dipengaruhi oleh factor genetik. Terdapat
produksi/sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.
2.
Gout Sekunder
a.
Pembentukan asam urat yang berlebihan
-
Kelainan mieloproliferatif (polisitemia, leukemia,
mieloma retikularis)
-
Sindroma Lech- Nyhan yaitu suatu kelainan akibat defisiensi
hipoxantin guanine fosforibosil transferase yang terjadi pada anak-anak dan
pada sebagian orang dewasa
-
Gangguan penyimpanan glikogen
-
Pada pengobatan anemia pernisiosa oleh karena maturasi sel
megaloblastik menstimulasi pengeluaran asam urat
b.
Sekresi asam urat yang berkurang misalnya pada:
-
Kegagalan ginjal kronik
-
Pemakain obat salsilat, tiazid, beberapa macam diuretik dan
sulfonamid
-
Keadaan-keadaan alkoholik, asidosis
laktik, hiperparatiroidis-
me dan pada
miksadema
Factor
predisposisi terjadinya gout yaitu, umur, jenis kelamin sering terjadi pada
pria, iklim, herediter, dan keadaan-keadaan yang menyebabkan timbulnya
hiperurikemia.
2.3 Epidemiologi
Gout artritis banyak diderita oleh laki-laki dan wanita
postmenopause, jarang padalaki-laki sebelum remaja dan wanita sebelum
menopause. Prevalensi gout meningkat seiring dengan bertambahnya usia yaitu
meningkat sampai 9% pada laki-laki dengan usia lebih dari80 tahun dan 6% pada
wanita. Konsentrasi serum urat pada laki-laki lebih besar 1 mg/dldari pada
wanita, tetapi setelah menopause level serum urat pada wanita meningkat
sehinggacenderung sama dengan laki-laki. Perbedaan serum urat pada laki-laki
dan wanita ini karena pengaruh hormon estrogennya. Pada saat premenopause
hormon estrogen ini menyebabkanklirens asam urat pada ginjal lebih efisien.
Peningkatan prevalensi gout juga bisa disebabkanoleh diet dan life style yang
kurang terkontrol, obesitas, hipertensi sindroma metabolik,trnsplantasi organ,
meningkatnya penggunaan obat-obatan seperti salicylate dan diuretik dosis
rendah.
2.4 Patofisiologi
Hiperurisemia
(konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih besar dari 7,0 mg/dl [SI: 0,4
) dapat (tetapi tidak selalu) menyebabkan
penumpukan Kristal monosodium urat. Serangan gout tampaknya berhubungan dengan
peningkatan atau penurunan mendadak kadar asam urat serum. Kalau Kristal urat
mengendap dalam sebuah sendi, respons inflamasi akan terjadi dan serangan gout
dimulai. Dengan serangan yang berulang-ulang,penumpukan Kristal natrium urat
yang dinamakan tofus akan mengendap di bagian perifer tubuh seperti ibu jari
kaki, tangan dan telinga. Nefrolitiasis urat (batu ginjal) deengan penyakit
renal kronis yang terjadi sekunder akibat penumpukan urat dapat timbul.
Gambaran
Kristal urat dalam cairan sinoval sendi yang asimtomatik menunjukan bahwa
faktor-faktor non Kristal mungkin berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal
monosodium urat yang ditemukan tersalut dengan immunoglobulin yang terutama
berupa IgG. IgG akan meningkatkan
fagositosis Kristal dan dengan demikian memperlihatkan aktivitas imunologik.
Pathwey
![]() |
|||
![]() |
|||
2.5 Manifestasi klinis
Terdapat 4 stadium perjalanan klinis
gout yang tidak diobati: (silvia A.price)
1. Stadium pertama
adalah hiperurikemia asimtomatik. Pada stadium ini asam urat serum laki-laki
meningkat dan tanpa gejala selain dari penigkatan asam urat serum.
2. Stadium kedua arthritis gout akut terjadi
awitan mendadak pembengkakan dan nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu
jari kaki dan sendi metatarsofalangeal.
3. Stadium ketiga
setelah serangan gout akut adalah tahap
interkritis. Tidak terdapat gejala-gejala pada tahap ini, yang dapat
berlangsung dari beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami
serangan berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
4. Stadium keempat
adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus meluas selama
beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradangan kronik akibat
kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit, dan kaku, juga pembesaran
dan penonjolan sendi bengkak
2.6 Pemeriksaan penunjang
1.
Kadar asam urat serum meningkat
2.
Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat
3.
Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.
Analisis cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi
menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis
5.
Sinar x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan
perubhan sendi
2.7 Penatalaksanaan
Preparat colchicine (oral atau
parenteral) atau NSAID, seperti indometasin, digunakan untuk meredakan serangan
akut gout. Penatalaksanaan medic hiperurisemia, tofus, penghancuran sendi dan
masalah renal biasanya dimulai setelah proses inflamasi akut mereda. Preparat
urikosurik seperti probenesid akan memperbaiki keadaan hiperurisemia dan melarutkan endapan urat. Alopurinol juga
merupakan obat yang efektif tetapi penggunaanya terbatas karena terdapat resiko
toksisitas. Kalau diperlukan penurunan kadar asam urat dalam serum, preparat
urikosurik merupakan obat pilihan. Kalau pasiennya beresiko untuk mengalami
insufisiensi renal atau batu ginjal (kalkuli renal), allopurinol merupakan obat
pilihan
|
obat
|
Kerja
dan pemakaian
|
Implikasi
keperawatan
|
|
colchicine
|
Mengurangi
penumpukan asam urat dan mengganggu pembentukan kinin serta leukosit sehingga
mengurangi inflamasi. Tidak mengubah kadar asam urat dalam serum atau urin.
Digunakan dalam penanganan akut dan kronik
|
Penatalaksanaan
akut: berikan ketika serangan pertama kali dimulai. Takaran ditingkatkan
sampai rasa nyeri merda atau terjadi diare.
Penatalaksanaan
kronik: penggunaan yang lama dapat menurunkan absorpsi vitamin B12,
menyebabkan gangguan gastrointestinal pada kebanyakan pasien.
|
|
Probenecid
(Benemid)
|
Preparat
urikosurik menghambat reabsorpsi urat dan meningkatkan ekskresi asam urat
dalam urin. Mencegah pembentukan tofus
|
Waspada
terhadap kemungkinan mual, ruam dan konstipasi
|
|
Alopurinol
(zyloprim)
|
Inhibitor
xanthin oksidase mengganggu proses pemecahan purin sebelum terbentuk asam
urat menghambat enzim xanthinoksidase karena menghalangi pembentukan asam
urat
|
Waspada
terhadap kemungkinan efek samping yang mencakup depresi sumsum tulang,
vomitus dan nyeri abdomen
|
2.8 KOMPLIKASI
Gout
berpotensi menyebabkan infeksi ketika terjadi ruptur tofus, batu ginjal,
hipertensi dan penyakit jantung lain (Kluwer, 2011).
2.9 Masalah yang lazim muncul
1.
Nyeri akut b.d agen cidera biologis pembengkakan sendi, melaporkan
nyeri secara verbal pada area sendi
2.
Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri persendian (kaku sendi)
3.
Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d perubahan kadar
elektrolit pada ginjal (disfungsi ginjal)
4.
Hipertermia b.d proses penyakit (peradangan sendi)
5.
Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit (nyeri pada sendi)
6.
Gangguan pola tidur b.d
7.
Kerusakan integritas jaringan b.d kelebihan
cairan peradangan kronik akibat adanya kristal urat
2.10 Disaharge planning
1.
Mengistirahatkan sendi yang nyeri
2.
Pemberian obat anti inflamasi
3.
Menghindarkan factor pencetus
4.
Minum 2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukan makanan
pembuat alkalis. Serta menghindari makanan yang mengandung purin tinggi
5.
Hindari minuman beralkohol karena dapat menimbulkan produksi asam
urat.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
a)
Biodata
Nama :
Umur :
usia pertengahan sampai usia lanjut
Jenis
kelamin : penyakit ini
paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita
pasca menopause Status mariental :
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan : pada
kenyataannya bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi
lemah.
Suku bangsa :
Alamat :
No. Medrec :
No. Rawat :
Dx. Medis :
Tgl. Masuk :
Tgl. Pengkajian :
Penanggung jawab
Nama :
Umur :
Pekerjaan :
Hubungan dengan pt :
b)
Keluhan
utama :
Pada pasien
yang mederita GOUT biasanya mengeluh nyeri yang luar biasa
c)
Riwayat
kesehatan sekarang :
Pengumpulan data dilakukan sejak munculnya
keluhan dan secara umum mencangkup awal gejala dan bagaimana gejala tersebut
berkembang. Penting ditanyakan berapa
lama pemakaian obat analgetik , allopurinol
d)
Riwayat
kesehatan masa lalu :
Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan
penyebab yang mendukung terjadinya gout ( misalnya penyakit ginjal lronis,
leukemia, hiperparatiroidsme ) masalah lain yang perlu ditanyakan adalah
pernahkah klien dirawat dengan msalah yang sama . kaji adanya pemakian
alcohol yang berlebihan, penggunaan obat
diuretic
e)
Riwayat
kesehatan keluarga :
Kaji adanya keluarga dari generasi
terdahulu yang emmpunyai keluhan yang
sama dengan klien karena klien gout dipengaruhi
oleh factor genetic. Ada prosuksi sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui
penyebabnya
f)
Pemeriksaan
fisik :
1.
Tanda-tanda
vital
a.
Keadaan
umum : compos mentis
b.
Kesadaran : *kualitatif
: CM s/d Coma, *kuantitatif: GCS
c.
Tekanan
darah : normalnya tekanan darah 120/80
d.
Nadi
: nadi normalnya 60-100x/mnt
e.
Suhu
: suhu normalnya
(pasien biasanya mengalami hipertermi)
f.
RR :
pernafasan normalnya 16-24x/mnt
2.
Antropometri
BB : pasien
biasanya mengalami peningkatan berat badan.
TB : tinggui
badan tidak berpengaruh
3.
Pemeriksaan
sistematika/persistem
A)
Sistem
pernafasan
- Inspeksi: bila tidak melibatkan
system pernapasan, biasanya ditemukan kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak
napas, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan.
-
Palpasi : taktil fremitus
seimbangkiridankanan
-
Perkusi :
Suararesonapadaseluruhlapangparu
-
Auskultasi: suaranapashilang/melemahpadasisi yang sakit,
biasanya di dapatsuararonkiataumengi.
B)
Sistem
kardiovaskuler
- Inspeksi : mukosa bibir lembab, tidak terdapat kelenjar getah
bening, tidak terdapat distensi vena jugularis, tidak terdapat clubbing finger.
- Palpasi : CRT<2 detik
- Perkusi : bunyi ICS 1-6 sebelah kiri pekak
- Auskultasi : S1 dan S2 tidak terdapat suara tambahan
C)
Sistem
pencernaan
- Inspeksi : mukosa bibir ananemis, tidak terdapat stomatitis, turgor
kulit abdomen elastis, bentuk abdomen simetris
- Auskultasi: bunyi bising usus normal 8-12x/menit
- Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada area abdomen, tidak
terdapat asites
- Perkusi: Bunyi perkusi abdomen timpani
D)
Sistem
persyarafan
Nervus
I (olfaktorius) : klien dapat mencium bau-bauan
Nervus
II (optikus) : klien dapat melihat pada jarak 2m
Nervus
III (okula motorius) : klien dapat menggerakan bola mata kesamping
atas
Nervus
IV (traklearis) : klien dapat menggerakkan bola mata ke atas dan
kebawah normal
Nervus
V (trigeminus) : pada
kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip
Nervus
VI (abdusen) : klien dapat menggerakkan bola mata ke samping
Nervus
VII (facialis) : klien dapat membedakan rasa manis dan asin
Nervus
VIII (akustikus) : pendengaran klien baik saat ditanya oleh
pengkaji
Nervus
IX (glosofaringeus) : klien dapat menelan dengan baik
Nervus
X (vagus) : klien dapat membuka mulutnya dengan baik
Nervus
XI (spinal accesory) : klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri
Nervus
XII (hipoglesal) : pergerakan
klien lemah dan tidak bebas
E)
Sistem
penglihatan
Bentuk mata
simetris, warna sklera putih, tidak adanya kelainan pada mata, reflek
mengedipkan mata normal, dapat merapatkan mata.
F)
Sistem
pendengaran
Bentuk telinga
simetris, tidak adanya nyeri tekan, tidak terdapat serumen, fungsi pendengaran
baik
G)
Sistem
perkemihan
Produksi urin biasanya
dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan, kecuali
penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke gijal berupa pielonefritis, batu
asam urat ,dan GGK yang akan menimbulkan perubahan fungsi pada sistem ini
H)
Sistem
muskuloskeletal
Pada pengkajian ini ditemukan Look: keluhan
nyeri sendi yang merupakan keluhan utama yang mendorong klien mencari
pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya).
Nyeri ini biasaya bertambah dengan gerakan dan
sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang
menimbulkan nyeri yang lebuh dibandingkan dengan gerakan yang lain. Deformitas
sendi (temuan tofus) terjadi dengan temuan salah satu pergelangan sendi secara
perlahan membesar. feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak. Move:
hambatan gerakan sendi biasanya semakin memberat
I)
Sistem
endokrin
Sering ditemukan keringat dingin, dan pusing
karena nyeri.
J)
Sistem
integumen
Kulit biasanya
mengalami perubahan warna menjadi merah pada area yang membengkak.
·
Pola
kebiasaan sehari-hari
|
No
|
Pola
|
Sebelum sakit
|
Saat sakit
|
|
1.
|
Makan
dan minum
Frekuensi
Alergi
Makanan
yang tidak disukai
Alat
bantu makan
|
3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
|
3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
|
|
2.
|
Istirahat dan tidur
Siang
Malam
|
±
2
jam
±
7
jam
|
±
2-3
jam
±
7-8
jam
|
|
3.
|
Personal higiene
· Mandi
frekuensi
· Oral higiene
frekuaensi
· Cuci rambut
Frekuensi
|
2x/hari
2x/hari
3x/minggu
|
1x/hari
Tidak pernah
Tidak pernah
|
|
4.
|
Eliminasi
· BAK
Frekuensi
Warna
Penggunaan
alat bantu
· BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi
|
±
3-5x/hari
Kuning
jernih
Tidak menggunakan
±
1-2x/hari
kuning
padat
|
±
2-4x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan
Tidak tentu
Kuning
padat
|
|
5.
|
Pola aktivitas
|
|
terbaring
|
A.
Data
Psikologis
1.
Status
emosi
Klien mampu
mengontrol emosinya, jika marah klien memilih untuk diam
2.
Kecemasan
klien
Tingkat
kecemasan klien sedang
3.
Konsep
diri
a.
Citra
tubuh : klien menyukai bagian bentuk tubuhnya yaitu mata
b.
Identitas
diri : klien merasa senang menjalani profesinya
c.
Peran
: peran klien di dalam keluarganya ( mis: ayah , ibu, anak)
d.
Ideal
diri : klien berharap penyakit di deritanya bisa cepat sembuh
e.
Harga
diri: klien di sekitar
B.
Data
Sosial
1.
Pola
komunikasi
Pasien dapat
berkomunikasi dengan jelas
2.
Pola
interaksi
Pasien
berinteraksi dengan keluarga dan perawat dengan baik dan jelas
C.
Data
Spiritual
Klien
mengatakan pada saat sebelum sakit dapat melaksanakan aktivitas ibada tetapi
saat di rumah sakit aktivitas ibadah belum dapat dilakukan karena alasan
kondisinya.
D.
Data
penunjang
1.
Kadar
asam urat serum meningkat
2.
Laju
sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat
3.
Kadar
asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.
Analisis
cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat
monosodium yang membuat diagnosis
5.
Sinar
x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubhan sendi
E.
Analisa
Data
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
keperawatan
|
|
1.
|
DS:
pasien mengatakan nyeri
DO:
pasien terlihat meringis
Skala
nyeri 8
|
Nyeri
hebat
|
nyeri berhubungan dengan
peradanagn/inflamasi
|
|
2
|
DS
: pasien mengatakan tidak bisa jalan
DO
: pasien tidak bisa berjalan
|
Hambatan mobilitas fisik
|
Kerusakan mobilitas fisik b.d
penurunan tonus otot
|
F. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri b.d inflamasi/peradangan
2. Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan
tonus otot
G.
Rencana keperawatan
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
Rasional
|
|
Nyeri
b.d inflamasi/peradangan
|
setelah dilakukan tindakan
keperawatan 1x24 jam proses inflamasi berhenti dan berangsur-angsur
sembuh.
Kriteria hasil :
-mampu mengontrol nyeri
- melaporkan bahwa nyeri berkurang
- mampu megenali nyeri
- menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
|
- Lakukan pengkajian nyeri secara
komperhensif termasuk lokasi karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presifitasi
- Lakukan teknik relaksasi napas
dalam
- Biarkan
pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk dikursi ,
tingkatkan istirahat tidur sesuai indikasi
- Berikan
massase yang lembut
- Libatkan
kembali aktivitas hiburan sesuai untuk aktivitas individu
- Kolaborasi dokter untuk pemberian
obat analgetik
|
- Membantu
dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan progam
- Pada
penyakit berat ini, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi cidera
- Meningkatkan
relaksasi/mengurangi tegangan otot
- Memfokuskan
kembali perhatian, emme berikan stimulasi,dan meningkatkan rasa percayadiri
|
|
Kerusakan mobilitas fisik b.d
penurunan tonus otot
|
Setelah dilakuakan tindakan keperawatan
selama 2x 24 jam kelemahan pasien dapat teratasi
Criteria
hasil : KO 5-5-5-5, pasien mengatakan tidak lemas
|
- Kaji
tingkat inflamasi / rasa sakit pada sendi
- Pertahankan
tirah baring/duduk jika perlu
- Bantu
dengan rentang gerak aktif-pasif
- Ubah
posisi dengan sering
|
- Tingkat
aktivitas bergantung pada perkembangan atau resolusi dari peradangan
- Istirahat
sistemik dianjurkan selama meksesarbasi akut dan seluruh fase penyakit yang
penting untuk mencegah kelelahan, memepertahankan kekuatan otot
- Mempertahankan
atau meningkatkan
Fungsi sendi, kekeuatan otot, dan
stamina umum
- Menghilangkan
tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi memepermudah perawatan diri dan
kemandirian pasien
|
F.
Evaluasi
|
Diagnosa Keperawatan
|
Evaluasi
|
Paraf
|
|
Nyeri
b.d inflamasi/peradangan
|
Nyeri berkurang
|
|
|
Kerusakan
mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot
|
Pasien mampu berjalan
|
|
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut
:
1.
Asam
urat adalah hasil akhir dari katabolisme (pemecahan) purin. Purin adalah salah
satu kelompok struktur kimia pembentuk DNA.
2.
Asam
urat dikeluarkan dalam tubuh melalui feses (kotoran) dan urin, tetapi karena
ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat yang ada menyebabkan kadarnya
meningkat dalam tubuh. Hal lain yang dapat meningkatkan kadar asam urat adalah
kita terlalu banyak mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung banyak purin.
Asam urat yang berlebih selanjutnya akan terkumpul pada persendian sehingga
menyebabkan rasa nyeri atau bengkak.
3.
Gejala
Asam Urat seperti ; kesemutan dan linu, nyeri terutama malam hari atau pagi
hari saat bangun tidur, sendi yang terkena asam urat terlihat bengkak,
kemerahan, panas dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.
4.2
SARAN
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan
beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan
mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :
1.
Dalam
melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana
keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis, pendokumentasian harus
jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.
2.
Dalam
rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan rheumatoid artritis
maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien
yang mengalami rheumatoid artritis.
DAFTAR PUSTAKA
·
Amin Huda Nuratif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jilid 2
·
Brunner dan suddath. 2001.
keperawatan medikal bedah edisi 8 vol.2. Jakarta: EGC
·
Elliot Chang Daly. 2009.
Patofisiologi. Jakarta : ECG


Tidak ada komentar:
Posting Komentar