Senin, 11 April 2016

Makalah dan Askep GOUT



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh. Peningkatan kadar asam urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh manusia seperti perasaan linu-linu di daerah persendian dan sering disertai timbulnya rasa nyeri yang teramat sangat bagi penderitannya. Penyakit ini sering disebut penyakit gout atau lebih dikenal dengan penyakit asam urat (Andry, 2009). Penyakit gout adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin yang ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan kristal urat monohidrat monosodium dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi, insiden penyakit gout sebesar 1-2%, terutama terjadi pada usia 30-40 tahun dan 20 kali lebih sering pada pria daripada wanita (Muttaqin, 2008). Secara biokomiawi akan terjadi hipersaturasi yaitu kelarutan asam urat di serum yang melewati ambang batasnya.
Keadaan hiperurisemia akan beresiko timbulnya artritis gout, nefropati gout, atau batu ginjal. Insiden gout di Indonesia menduduki urutan kedua setelah osteoartritis (Dalimartha, 2008 dikutip dari penelitian Festy dkk).
Prevalensi gout di Indonesia diperkirakan 1,6-13,6/100.000 orang, prevalensi ini meningkat seiring dengan meningkatnya umur (Tjokroprawiro, 2007). Faktor risiko yang menyebabkan orang terserang penyakit asam urat, Vitahealth (2007) adalah genetik/riwayat keluarga, asupan senyawa purin berlebihan, konsumsi alkohol berlebih, kegemukan (obesitas), hipertensi, gangguan fungsi ginjal dan obat-obatan tertentu (terutama diuretika). Faktor-faktor tersebut diatas dapat meningkatkan kadar asam urat, jika terjadi peningkatan kadar asam urat serta di tandai linu pada sendi, terasa sakit, nyeri, merah dan bengkak keadaan ini dikenal dengan gout. Gout termasuk penyakit yang dapat dikendalikan walaupun tidak dapat disembuhkan, namun kalau dibiarkan saja kondisi ini dapat berkembang menjadi artritis yang melumpuhkan (Charlish, 2009).

1.2  Rumusan Masalah
A.    Apakah pengertian dari gout?
B.      Bagaimana etiologi dari gout?
C.     Apa saja klasifikasi dari gout?
D.    Bagaimana manifestasi klinis dari Gout?
E.     Bagaimana patofisiologi dari Gout?

1.3  Tujuan
A.    Untuk Mengetahui Pengertian
B.     Untuk mengetahui Etiologi
C.     Untuk Mengetahui Klasifikasi
D.    Untuk mengetahui Manifestasi Klinis
E.  Untuk Mengetahui Patofisiologi




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Gout adalah penyakit yang di akibatkan metabolisme purin yang ditandai dengan hiperurikemi dan serangan sinovitis akut berulang-ulang (chairuddin) penyakit ini paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita pasca menopause. (Fauci, Braunwald)
Gout (pirai) merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic pada metabolism purin (hiperurisemia). Pada keadaan ini bisa terjadi oversekresi asam urat atau defek renal yang mengakibatkan penurunan ekskresi asam urat, atau kombinasi keduanya.
2.2 Etiologi
Gangguan metabolic dengan meningkatnya konsentrasi asam urat ini di timbulkan dari penimbunan kristal di sendi oleh monosodium urat (MSU, gout) dan kalsium pirofosfat dihidrat (CPPD, pseudogout) dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi. Klasifikasi gout dibagi 2 yaitu: (chairuddin, 2003).
1.      Gout Primer: dipengaruhi oleh factor genetik. Terdapat produksi/sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.
2.      Gout Sekunder
a.      Pembentukan asam urat yang berlebihan
-          Kelainan mieloproliferatif (polisitemia, leukemia, mieloma retikularis)
-          Sindroma Lech- Nyhan yaitu suatu kelainan akibat defisiensi hipoxantin guanine fosforibosil transferase yang terjadi pada anak-anak dan pada sebagian orang dewasa
-          Gangguan penyimpanan glikogen
-          Pada pengobatan anemia pernisiosa oleh karena maturasi sel megaloblastik menstimulasi pengeluaran asam urat
b.      Sekresi asam urat yang berkurang misalnya pada:
-          Kegagalan ginjal kronik
-          Pemakain obat salsilat, tiazid, beberapa macam diuretik dan sulfonamid
-          Keadaan-keadaan alkoholik, asidosis laktik, hiperparatiroidis-
me dan pada miksadema
Factor predisposisi terjadinya gout yaitu, umur, jenis kelamin sering terjadi pada pria, iklim, herediter, dan keadaan-keadaan yang menyebabkan timbulnya hiperurikemia.
2.3 Epidemiologi
Gout artritis banyak diderita oleh laki-laki dan wanita postmenopause, jarang padalaki-laki sebelum remaja dan wanita sebelum menopause. Prevalensi gout meningkat seiring dengan bertambahnya usia yaitu meningkat sampai 9% pada laki-laki dengan usia lebih dari80 tahun dan 6% pada wanita. Konsentrasi serum urat pada laki-laki lebih besar 1 mg/dldari pada wanita, tetapi setelah menopause level serum urat pada wanita meningkat sehinggacenderung sama dengan laki-laki. Perbedaan serum urat pada laki-laki dan wanita ini karena pengaruh hormon estrogennya. Pada saat premenopause hormon estrogen ini menyebabkanklirens asam urat pada ginjal lebih efisien. Peningkatan prevalensi gout juga bisa disebabkanoleh diet dan life style yang kurang terkontrol, obesitas, hipertensi sindroma metabolik,trnsplantasi organ, meningkatnya penggunaan obat-obatan seperti salicylate dan diuretik dosis rendah.
2.4 Patofisiologi
Hiperurisemia (konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih besar dari 7,0 mg/dl [SI: 0,4 ) dapat (tetapi tidak selalu) menyebabkan penumpukan Kristal monosodium urat. Serangan gout tampaknya berhubungan dengan peningkatan atau penurunan mendadak kadar asam urat serum. Kalau Kristal urat mengendap dalam sebuah sendi, respons inflamasi akan terjadi dan serangan gout dimulai. Dengan serangan yang berulang-ulang,penumpukan Kristal natrium urat yang dinamakan tofus akan mengendap di bagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan dan telinga. Nefrolitiasis urat (batu ginjal) deengan penyakit renal kronis yang terjadi sekunder akibat penumpukan urat dapat timbul.
Gambaran Kristal urat dalam cairan sinoval sendi yang asimtomatik menunjukan bahwa faktor-faktor non Kristal mungkin berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal monosodium urat yang ditemukan tersalut dengan immunoglobulin yang terutama berupa IgG. IgG akan  meningkatkan fagositosis Kristal dan dengan demikian memperlihatkan aktivitas imunologik.
Pathwey
 


vv








 



























                         


2.5 Manifestasi klinis
Terdapat 4 stadium perjalanan klinis gout yang tidak diobati: (silvia A.price)
1.      Stadium pertama adalah hiperurikemia asimtomatik. Pada stadium ini asam urat serum laki-laki meningkat dan tanpa gejala selain dari penigkatan asam urat serum.
2.      Stadium kedua arthritis gout akut terjadi awitan mendadak pembengkakan dan nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan sendi metatarsofalangeal.
3.      Stadium ketiga setelah serangan gout akut adalah  tahap interkritis. Tidak terdapat gejala-gejala pada tahap ini, yang dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
4.      Stadium keempat adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus meluas selama beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradangan kronik akibat kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit, dan kaku, juga pembesaran dan penonjolan sendi bengkak
2.6 Pemeriksaan penunjang
1.      Kadar asam urat serum meningkat
2.      Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat 
3.      Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.      Analisis cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis
5.      Sinar x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubhan sendi



2.7 Penatalaksanaan
Preparat colchicine (oral atau parenteral) atau NSAID, seperti indometasin, digunakan untuk meredakan serangan akut gout. Penatalaksanaan medic hiperurisemia, tofus, penghancuran sendi dan masalah renal biasanya dimulai setelah proses inflamasi akut mereda. Preparat urikosurik seperti probenesid akan memperbaiki keadaan hiperurisemia dan melarutkan endapan urat. Alopurinol juga merupakan obat yang efektif tetapi penggunaanya terbatas karena terdapat resiko toksisitas. Kalau diperlukan penurunan kadar asam urat dalam serum, preparat urikosurik merupakan obat pilihan. Kalau pasiennya beresiko untuk mengalami insufisiensi renal atau batu ginjal (kalkuli renal), allopurinol merupakan obat pilihan
obat
Kerja dan pemakaian
Implikasi keperawatan
colchicine
Mengurangi penumpukan asam urat dan mengganggu pembentukan kinin serta leukosit sehingga mengurangi inflamasi. Tidak mengubah kadar asam urat dalam serum atau urin. Digunakan dalam penanganan akut dan kronik
Penatalaksanaan akut: berikan ketika serangan pertama kali dimulai. Takaran ditingkatkan sampai rasa nyeri merda atau terjadi diare.
Penatalaksanaan kronik: penggunaan yang lama dapat menurunkan absorpsi vitamin B12, menyebabkan gangguan gastrointestinal pada kebanyakan pasien.
Probenecid (Benemid)
Preparat urikosurik menghambat reabsorpsi urat dan meningkatkan ekskresi asam urat dalam urin. Mencegah pembentukan tofus
Waspada terhadap kemungkinan mual, ruam dan konstipasi
Alopurinol (zyloprim)
Inhibitor xanthin oksidase mengganggu proses pemecahan purin sebelum terbentuk asam urat menghambat enzim xanthinoksidase karena menghalangi pembentukan asam urat
Waspada terhadap kemungkinan efek samping yang mencakup depresi sumsum tulang, vomitus dan nyeri abdomen
2.8 KOMPLIKASI
Gout berpotensi menyebabkan infeksi ketika terjadi ruptur tofus, batu ginjal, hipertensi dan penyakit jantung lain (Kluwer, 2011).
2.9 Masalah yang lazim muncul
1.      Nyeri akut b.d agen cidera biologis pembengkakan sendi, melaporkan nyeri secara verbal pada area sendi
2.      Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri persendian (kaku sendi)
3.      Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d perubahan kadar elektrolit pada ginjal (disfungsi ginjal)
4.      Hipertermia b.d proses penyakit (peradangan sendi)
5.      Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit (nyeri pada sendi)
6.      Gangguan pola tidur b.d
7.      Kerusakan integritas jaringan b.d kelebihan cairan peradangan kronik akibat adanya kristal urat



2.10 Disaharge planning
1.      Mengistirahatkan sendi yang nyeri
2.      Pemberian obat anti inflamasi
3.      Menghindarkan factor pencetus
4.      Minum 2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukan makanan pembuat alkalis. Serta menghindari makanan yang mengandung purin tinggi
5.      Hindari minuman beralkohol karena dapat menimbulkan produksi asam urat.



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
a)    Biodata
Nama                                 :
Umur                                 : usia pertengahan sampai usia lanjut
Jenis kelamin                     : penyakit ini paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita pasca menopause Status mariental     :
Agama                               :
Pendidikan                        :
Pekerjaan                           : pada kenyataannya bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah.
Suku bangsa                      :
Alamat                               :
No. Medrec                       :
No. Rawat                         :
Dx. Medis                          :
Tgl. Masuk                         :
Tgl. Pengkajian                  :

Penanggung jawab
Nama                                 :
Umur                                 :
Pekerjaan                           :
Hubungan dengan pt         :

b)        Keluhan utama :
Pada pasien yang mederita GOUT biasanya mengeluh nyeri yang luar biasa


c)        Riwayat kesehatan sekarang :
Pengumpulan data dilakukan sejak munculnya keluhan dan secara umum mencangkup awal gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang. Penting ditanyakan  berapa lama pemakaian obat analgetik , allopurinol

d)       Riwayat kesehatan masa lalu :
Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan penyebab yang mendukung terjadinya gout ( misalnya penyakit ginjal lronis, leukemia, hiperparatiroidsme ) masalah lain yang perlu ditanyakan adalah pernahkah klien dirawat dengan msalah yang sama . kaji adanya pemakian alcohol  yang berlebihan, penggunaan obat diuretic

e)        Riwayat kesehatan keluarga :
Kaji adanya keluarga dari generasi terdahulu  yang emmpunyai keluhan yang sama dengan klien karena klien gout dipengaruhi  oleh factor genetic. Ada prosuksi sekresi asam urat  yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya

f)         Pemeriksaan fisik :
1.      Tanda-tanda vital
a.       Keadaan umum : compos mentis
b.      Kesadaran  :  *kualitatif : CM s/d Coma, *kuantitatif: GCS
c.       Tekanan darah : normalnya tekanan darah 120/80
d.      Nadi : nadi normalnya 60-100x/mnt
e.       Suhu : suhu normalnya   (pasien biasanya mengalami hipertermi)
f.       RR : pernafasan normalnya 16-24x/mnt
2.      Antropometri
BB : pasien biasanya mengalami peningkatan berat badan.
TB : tinggui badan tidak berpengaruh


3.      Pemeriksaan sistematika/persistem
A)    Sistem pernafasan
-    Inspeksi: bila tidak melibatkan system pernapasan, biasanya ditemukan kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan.
-    Palpasi : taktil fremitus seimbangkiridankanan
-    Perkusi : Suararesonapadaseluruhlapangparu
-    Auskultasi: suaranapashilang/melemahpadasisi yang sakit, biasanya di dapatsuararonkiataumengi.
B)    Sistem kardiovaskuler
-  Inspeksi : mukosa bibir lembab, tidak terdapat kelenjar getah bening, tidak terdapat distensi vena jugularis, tidak terdapat clubbing finger.
-  Palpasi : CRT<2 detik
-  Perkusi : bunyi ICS 1-6 sebelah kiri pekak
-  Auskultasi : S1 dan S2 tidak terdapat suara tambahan
C)    Sistem pencernaan
-  Inspeksi : mukosa bibir ananemis, tidak terdapat stomatitis, turgor kulit abdomen elastis, bentuk abdomen simetris
-  Auskultasi: bunyi bising usus normal 8-12x/menit
-  Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada area abdomen, tidak terdapat asites
-  Perkusi: Bunyi perkusi abdomen timpani
D)    Sistem persyarafan
Nervus I (olfaktorius)                      :  klien dapat mencium bau-bauan
Nervus II (optikus)                          :  klien dapat melihat pada jarak 2m
Nervus III (okula motorius)            :  klien dapat menggerakan bola mata kesamping atas
Nervus IV (traklearis)                      :  klien dapat menggerakkan bola mata ke atas dan kebawah normal
Nervus V (trigeminus)                     :  pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip
Nervus VI (abdusen)                       :  klien dapat menggerakkan bola mata ke samping
Nervus VII (facialis)                       :  klien dapat membedakan rasa manis dan asin
Nervus VIII (akustikus)                  :  pendengaran klien baik saat ditanya oleh pengkaji
Nervus IX (glosofaringeus)             :  klien dapat menelan dengan baik
Nervus X (vagus)                            :  klien dapat membuka mulutnya dengan baik
Nervus XI (spinal accesory)            :  klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri
Nervus XII (hipoglesal)                   : pergerakan klien lemah dan tidak bebas
E)     Sistem penglihatan
Bentuk mata simetris, warna sklera putih, tidak adanya kelainan pada mata, reflek mengedipkan mata normal, dapat merapatkan mata.
F)     Sistem pendengaran
Bentuk telinga simetris, tidak adanya nyeri tekan, tidak terdapat serumen, fungsi pendengaran baik
G)    Sistem perkemihan
Produksi urin biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan, kecuali penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke gijal berupa pielonefritis, batu asam urat ,dan GGK yang akan menimbulkan perubahan fungsi pada sistem ini
H)    Sistem muskuloskeletal
Pada pengkajian ini ditemukan Look: keluhan nyeri sendi yang merupakan keluhan utama yang mendorong klien mencari pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya).
Nyeri ini biasaya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang menimbulkan nyeri yang lebuh dibandingkan dengan gerakan yang lain. Deformitas sendi (temuan tofus) terjadi dengan temuan salah satu pergelangan sendi secara perlahan membesar. feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak. Move: hambatan gerakan sendi biasanya semakin memberat
I)       Sistem endokrin
Sering ditemukan keringat dingin, dan pusing karena nyeri.
J)       Sistem integumen
Kulit biasanya mengalami perubahan warna menjadi merah pada area yang  membengkak.



















·         Pola kebiasaan sehari-hari
No
Pola
Sebelum sakit
Saat sakit
1.
Makan dan minum
Frekuensi
Alergi
Makanan yang tidak disukai
Alat bantu makan

3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
2.
Istirahat dan tidur
Siang
Malam

±        2 jam
±        7 jam

±        2-3 jam
±        7-8 jam
3.
Personal higiene
·  Mandi
frekuensi
·  Oral higiene
frekuaensi
·  Cuci rambut
Frekuensi


2x/hari

2x/hari

3x/minggu


1x/hari

Tidak pernah

Tidak pernah
4.
Eliminasi
·   BAK
Frekuensi
Warna
Penggunaan alat bantu
·   BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi


±        3-5x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan

±        1-2x/hari
kuning
padat


±        2-4x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan

Tidak tentu
Kuning
padat
5.
Pola aktivitas

terbaring



A.  Data Psikologis
1.      Status emosi
Klien mampu mengontrol emosinya, jika marah klien memilih untuk diam
2.      Kecemasan klien
Tingkat kecemasan klien sedang
3.      Konsep diri
a.       Citra tubuh : klien menyukai bagian bentuk tubuhnya yaitu mata
b.      Identitas diri : klien merasa senang menjalani profesinya
c.       Peran : peran klien di dalam keluarganya ( mis: ayah , ibu, anak)
d.      Ideal diri : klien berharap penyakit di deritanya bisa cepat sembuh
e.       Harga diri: klien di sekitar
B.  Data Sosial
1.      Pola komunikasi
Pasien dapat berkomunikasi dengan jelas
2.      Pola interaksi
Pasien berinteraksi dengan keluarga dan perawat dengan baik dan jelas
C.  Data Spiritual
Klien mengatakan pada saat sebelum sakit dapat melaksanakan aktivitas ibada tetapi saat di rumah sakit aktivitas ibadah belum dapat dilakukan karena alasan kondisinya.

D.  Data penunjang
1.      Kadar asam urat serum meningkat
2.      Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat 
3.      Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.      Analisis cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis
5.      Sinar x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubhan sendi



E.   Analisa Data
No
Data
Etiologi
Masalah keperawatan
1.
DS: pasien mengatakan nyeri
DO: pasien terlihat meringis
Skala nyeri 8
Respons inflamasi meningkat

Pembesaran dan penonjolan  sendi

Nyeri hebat

nyeri berhubungan dengan peradanagn/inflamasi

2
DS : pasien mengatakan tidak bisa jalan
DO : pasien tidak bisa berjalan
Pembesaran dan penonjolan  sendi

Deformitas sendi

Kekakuan sendi

Hambatan mobilitas fisik


Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot


F. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri b.d inflamasi/peradangan
2. Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot






G. Rencana keperawatan
Diagnosa
NOC
NIC
Rasional
Nyeri b.d inflamasi/peradangan
setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam proses inflamasi berhenti dan berangsur-angsur sembuh.
Kriteria hasil :
-mampu mengontrol nyeri
- melaporkan bahwa nyeri berkurang
- mampu megenali nyeri
- menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang


-       Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presifitasi
-       Lakukan teknik relaksasi napas dalam
-       Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk dikursi , tingkatkan istirahat tidur sesuai indikasi
-       Berikan massase yang lembut
-       Libatkan kembali aktivitas hiburan sesuai untuk aktivitas individu
-       Kolaborasi dokter untuk pemberian obat analgetik

-   Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan progam
-   Pada penyakit berat ini, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi cidera
-   Meningkatkan relaksasi/mengurangi tegangan otot
-   Memfokuskan kembali perhatian, emme berikan stimulasi,dan meningkatkan rasa percayadiri
Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot
Setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam kelemahan pasien dapat teratasi
Criteria hasil : KO 5-5-5-5, pasien mengatakan tidak lemas
-       Kaji tingkat inflamasi / rasa sakit pada sendi
-       Pertahankan tirah baring/duduk jika perlu
-       Bantu dengan rentang gerak aktif-pasif
-       Ubah posisi dengan sering

-    Tingkat aktivitas bergantung pada perkembangan atau resolusi dari peradangan
-    Istirahat sistemik dianjurkan selama meksesarbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan, memepertahankan kekuatan  otot
-    Mempertahankan atau meningkatkan
Fungsi sendi, kekeuatan otot, dan stamina umum
-    Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien


F.   Evaluasi
Diagnosa Keperawatan
Evaluasi
Paraf
Nyeri b.d inflamasi/peradangan
Nyeri berkurang

Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot
Pasien mampu berjalan





BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut : 
1.      Asam urat adalah hasil akhir dari katabolisme (pemecahan) purin. Purin adalah salah satu kelompok struktur kimia pembentuk DNA.
2.      Asam urat dikeluarkan dalam tubuh melalui feses (kotoran) dan urin, tetapi karena ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat yang ada menyebabkan kadarnya meningkat dalam tubuh. Hal lain yang dapat meningkatkan kadar asam urat adalah kita terlalu banyak mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung banyak purin. Asam urat yang berlebih selanjutnya akan terkumpul pada persendian sehingga menyebabkan rasa nyeri atau bengkak. 
3.      Gejala Asam Urat seperti ; kesemutan dan linu, nyeri terutama malam hari atau pagi hari saat bangun tidur, sendi yang terkena asam urat terlihat bengkak, kemerahan, panas dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.
4.2 SARAN
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :
1.      Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.
2.      Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan rheumatoid artritis maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis.


DAFTAR PUSTAKA
·         Amin Huda Nuratif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jilid 2
·         Brunner dan suddath. 2001. keperawatan medikal bedah edisi 8 vol.2. Jakarta: EGC
·         Elliot Chang Daly. 2009. Patofisiologi. Jakarta : ECG




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh. Peningkatan kadar asam urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh manusia seperti perasaan linu-linu di daerah persendian dan sering disertai timbulnya rasa nyeri yang teramat sangat bagi penderitannya. Penyakit ini sering disebut penyakit gout atau lebih dikenal dengan penyakit asam urat (Andry, 2009). Penyakit gout adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin yang ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan kristal urat monohidrat monosodium dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi, insiden penyakit gout sebesar 1-2%, terutama terjadi pada usia 30-40 tahun dan 20 kali lebih sering pada pria daripada wanita (Muttaqin, 2008). Secara biokomiawi akan terjadi hipersaturasi yaitu kelarutan asam urat di serum yang melewati ambang batasnya.
Keadaan hiperurisemia akan beresiko timbulnya artritis gout, nefropati gout, atau batu ginjal. Insiden gout di Indonesia menduduki urutan kedua setelah osteoartritis (Dalimartha, 2008 dikutip dari penelitian Festy dkk).
Prevalensi gout di Indonesia diperkirakan 1,6-13,6/100.000 orang, prevalensi ini meningkat seiring dengan meningkatnya umur (Tjokroprawiro, 2007). Faktor risiko yang menyebabkan orang terserang penyakit asam urat, Vitahealth (2007) adalah genetik/riwayat keluarga, asupan senyawa purin berlebihan, konsumsi alkohol berlebih, kegemukan (obesitas), hipertensi, gangguan fungsi ginjal dan obat-obatan tertentu (terutama diuretika). Faktor-faktor tersebut diatas dapat meningkatkan kadar asam urat, jika terjadi peningkatan kadar asam urat serta di tandai linu pada sendi, terasa sakit, nyeri, merah dan bengkak keadaan ini dikenal dengan gout. Gout termasuk penyakit yang dapat dikendalikan walaupun tidak dapat disembuhkan, namun kalau dibiarkan saja kondisi ini dapat berkembang menjadi artritis yang melumpuhkan (Charlish, 2009).

1.2  Rumusan Masalah
A.    Apakah pengertian dari gout?
B.      Bagaimana etiologi dari gout?
C.     Apa saja klasifikasi dari gout?
D.    Bagaimana manifestasi klinis dari Gout?
E.     Bagaimana patofisiologi dari Gout?

1.3  Tujuan
A.    Untuk Mengetahui Pengertian
B.     Untuk mengetahui Etiologi
C.     Untuk Mengetahui Klasifikasi
D.    Untuk mengetahui Manifestasi Klinis
E.  Untuk Mengetahui Patofisiologi




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Gout adalah penyakit yang di akibatkan metabolisme purin yang ditandai dengan hiperurikemi dan serangan sinovitis akut berulang-ulang (chairuddin) penyakit ini paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita pasca menopause. (Fauci, Braunwald)
Gout (pirai) merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan defek genetic pada metabolism purin (hiperurisemia). Pada keadaan ini bisa terjadi oversekresi asam urat atau defek renal yang mengakibatkan penurunan ekskresi asam urat, atau kombinasi keduanya.
2.2 Etiologi
Gangguan metabolic dengan meningkatnya konsentrasi asam urat ini di timbulkan dari penimbunan kristal di sendi oleh monosodium urat (MSU, gout) dan kalsium pirofosfat dihidrat (CPPD, pseudogout) dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi. Klasifikasi gout dibagi 2 yaitu: (chairuddin, 2003).
1.      Gout Primer: dipengaruhi oleh factor genetik. Terdapat produksi/sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.
2.      Gout Sekunder
a.      Pembentukan asam urat yang berlebihan
-          Kelainan mieloproliferatif (polisitemia, leukemia, mieloma retikularis)
-          Sindroma Lech- Nyhan yaitu suatu kelainan akibat defisiensi hipoxantin guanine fosforibosil transferase yang terjadi pada anak-anak dan pada sebagian orang dewasa
-          Gangguan penyimpanan glikogen
-          Pada pengobatan anemia pernisiosa oleh karena maturasi sel megaloblastik menstimulasi pengeluaran asam urat
b.      Sekresi asam urat yang berkurang misalnya pada:
-          Kegagalan ginjal kronik
-          Pemakain obat salsilat, tiazid, beberapa macam diuretik dan sulfonamid
-          Keadaan-keadaan alkoholik, asidosis laktik, hiperparatiroidis-
me dan pada miksadema
Factor predisposisi terjadinya gout yaitu, umur, jenis kelamin sering terjadi pada pria, iklim, herediter, dan keadaan-keadaan yang menyebabkan timbulnya hiperurikemia.
2.3 Epidemiologi
Gout artritis banyak diderita oleh laki-laki dan wanita postmenopause, jarang padalaki-laki sebelum remaja dan wanita sebelum menopause. Prevalensi gout meningkat seiring dengan bertambahnya usia yaitu meningkat sampai 9% pada laki-laki dengan usia lebih dari80 tahun dan 6% pada wanita. Konsentrasi serum urat pada laki-laki lebih besar 1 mg/dldari pada wanita, tetapi setelah menopause level serum urat pada wanita meningkat sehinggacenderung sama dengan laki-laki. Perbedaan serum urat pada laki-laki dan wanita ini karena pengaruh hormon estrogennya. Pada saat premenopause hormon estrogen ini menyebabkanklirens asam urat pada ginjal lebih efisien. Peningkatan prevalensi gout juga bisa disebabkanoleh diet dan life style yang kurang terkontrol, obesitas, hipertensi sindroma metabolik,trnsplantasi organ, meningkatnya penggunaan obat-obatan seperti salicylate dan diuretik dosis rendah.
2.4 Patofisiologi
Hiperurisemia (konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih besar dari 7,0 mg/dl [SI: 0,4 ) dapat (tetapi tidak selalu) menyebabkan penumpukan Kristal monosodium urat. Serangan gout tampaknya berhubungan dengan peningkatan atau penurunan mendadak kadar asam urat serum. Kalau Kristal urat mengendap dalam sebuah sendi, respons inflamasi akan terjadi dan serangan gout dimulai. Dengan serangan yang berulang-ulang,penumpukan Kristal natrium urat yang dinamakan tofus akan mengendap di bagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan dan telinga. Nefrolitiasis urat (batu ginjal) deengan penyakit renal kronis yang terjadi sekunder akibat penumpukan urat dapat timbul.
Gambaran Kristal urat dalam cairan sinoval sendi yang asimtomatik menunjukan bahwa faktor-faktor non Kristal mungkin berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal monosodium urat yang ditemukan tersalut dengan immunoglobulin yang terutama berupa IgG. IgG akan  meningkatkan fagositosis Kristal dan dengan demikian memperlihatkan aktivitas imunologik.
Pathwey
 


vv








 



























                         


2.5 Manifestasi klinis
Terdapat 4 stadium perjalanan klinis gout yang tidak diobati: (silvia A.price)
1.      Stadium pertama adalah hiperurikemia asimtomatik. Pada stadium ini asam urat serum laki-laki meningkat dan tanpa gejala selain dari penigkatan asam urat serum.
2.      Stadium kedua arthritis gout akut terjadi awitan mendadak pembengkakan dan nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan sendi metatarsofalangeal.
3.      Stadium ketiga setelah serangan gout akut adalah  tahap interkritis. Tidak terdapat gejala-gejala pada tahap ini, yang dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
4.      Stadium keempat adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus meluas selama beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradangan kronik akibat kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit, dan kaku, juga pembesaran dan penonjolan sendi bengkak
2.6 Pemeriksaan penunjang
1.      Kadar asam urat serum meningkat
2.      Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat 
3.      Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.      Analisis cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis
5.      Sinar x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubhan sendi



2.7 Penatalaksanaan
Preparat colchicine (oral atau parenteral) atau NSAID, seperti indometasin, digunakan untuk meredakan serangan akut gout. Penatalaksanaan medic hiperurisemia, tofus, penghancuran sendi dan masalah renal biasanya dimulai setelah proses inflamasi akut mereda. Preparat urikosurik seperti probenesid akan memperbaiki keadaan hiperurisemia dan melarutkan endapan urat. Alopurinol juga merupakan obat yang efektif tetapi penggunaanya terbatas karena terdapat resiko toksisitas. Kalau diperlukan penurunan kadar asam urat dalam serum, preparat urikosurik merupakan obat pilihan. Kalau pasiennya beresiko untuk mengalami insufisiensi renal atau batu ginjal (kalkuli renal), allopurinol merupakan obat pilihan
obat
Kerja dan pemakaian
Implikasi keperawatan
colchicine
Mengurangi penumpukan asam urat dan mengganggu pembentukan kinin serta leukosit sehingga mengurangi inflamasi. Tidak mengubah kadar asam urat dalam serum atau urin. Digunakan dalam penanganan akut dan kronik
Penatalaksanaan akut: berikan ketika serangan pertama kali dimulai. Takaran ditingkatkan sampai rasa nyeri merda atau terjadi diare.
Penatalaksanaan kronik: penggunaan yang lama dapat menurunkan absorpsi vitamin B12, menyebabkan gangguan gastrointestinal pada kebanyakan pasien.
Probenecid (Benemid)
Preparat urikosurik menghambat reabsorpsi urat dan meningkatkan ekskresi asam urat dalam urin. Mencegah pembentukan tofus
Waspada terhadap kemungkinan mual, ruam dan konstipasi
Alopurinol (zyloprim)
Inhibitor xanthin oksidase mengganggu proses pemecahan purin sebelum terbentuk asam urat menghambat enzim xanthinoksidase karena menghalangi pembentukan asam urat
Waspada terhadap kemungkinan efek samping yang mencakup depresi sumsum tulang, vomitus dan nyeri abdomen
2.8 KOMPLIKASI
Gout berpotensi menyebabkan infeksi ketika terjadi ruptur tofus, batu ginjal, hipertensi dan penyakit jantung lain (Kluwer, 2011).
2.9 Masalah yang lazim muncul
1.      Nyeri akut b.d agen cidera biologis pembengkakan sendi, melaporkan nyeri secara verbal pada area sendi
2.      Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri persendian (kaku sendi)
3.      Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d perubahan kadar elektrolit pada ginjal (disfungsi ginjal)
4.      Hipertermia b.d proses penyakit (peradangan sendi)
5.      Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit (nyeri pada sendi)
6.      Gangguan pola tidur b.d
7.      Kerusakan integritas jaringan b.d kelebihan cairan peradangan kronik akibat adanya kristal urat



2.10 Disaharge planning
1.      Mengistirahatkan sendi yang nyeri
2.      Pemberian obat anti inflamasi
3.      Menghindarkan factor pencetus
4.      Minum 2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukan makanan pembuat alkalis. Serta menghindari makanan yang mengandung purin tinggi
5.      Hindari minuman beralkohol karena dapat menimbulkan produksi asam urat.



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
a)    Biodata
Nama                                 :
Umur                                 : usia pertengahan sampai usia lanjut
Jenis kelamin                     : penyakit ini paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita pasca menopause Status mariental     :
Agama                               :
Pendidikan                        :
Pekerjaan                           : pada kenyataannya bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah.
Suku bangsa                      :
Alamat                               :
No. Medrec                       :
No. Rawat                         :
Dx. Medis                          :
Tgl. Masuk                         :
Tgl. Pengkajian                  :

Penanggung jawab
Nama                                 :
Umur                                 :
Pekerjaan                           :
Hubungan dengan pt         :

b)        Keluhan utama :
Pada pasien yang mederita GOUT biasanya mengeluh nyeri yang luar biasa


c)        Riwayat kesehatan sekarang :
Pengumpulan data dilakukan sejak munculnya keluhan dan secara umum mencangkup awal gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang. Penting ditanyakan  berapa lama pemakaian obat analgetik , allopurinol

d)       Riwayat kesehatan masa lalu :
Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan penyebab yang mendukung terjadinya gout ( misalnya penyakit ginjal lronis, leukemia, hiperparatiroidsme ) masalah lain yang perlu ditanyakan adalah pernahkah klien dirawat dengan msalah yang sama . kaji adanya pemakian alcohol  yang berlebihan, penggunaan obat diuretic

e)        Riwayat kesehatan keluarga :
Kaji adanya keluarga dari generasi terdahulu  yang emmpunyai keluhan yang sama dengan klien karena klien gout dipengaruhi  oleh factor genetic. Ada prosuksi sekresi asam urat  yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya

f)         Pemeriksaan fisik :
1.      Tanda-tanda vital
a.       Keadaan umum : compos mentis
b.      Kesadaran  :  *kualitatif : CM s/d Coma, *kuantitatif: GCS
c.       Tekanan darah : normalnya tekanan darah 120/80
d.      Nadi : nadi normalnya 60-100x/mnt
e.       Suhu : suhu normalnya   (pasien biasanya mengalami hipertermi)
f.       RR : pernafasan normalnya 16-24x/mnt
2.      Antropometri
BB : pasien biasanya mengalami peningkatan berat badan.
TB : tinggui badan tidak berpengaruh


3.      Pemeriksaan sistematika/persistem
A)    Sistem pernafasan
-    Inspeksi: bila tidak melibatkan system pernapasan, biasanya ditemukan kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan.
-    Palpasi : taktil fremitus seimbangkiridankanan
-    Perkusi : Suararesonapadaseluruhlapangparu
-    Auskultasi: suaranapashilang/melemahpadasisi yang sakit, biasanya di dapatsuararonkiataumengi.
B)    Sistem kardiovaskuler
-  Inspeksi : mukosa bibir lembab, tidak terdapat kelenjar getah bening, tidak terdapat distensi vena jugularis, tidak terdapat clubbing finger.
-  Palpasi : CRT<2 detik
-  Perkusi : bunyi ICS 1-6 sebelah kiri pekak
-  Auskultasi : S1 dan S2 tidak terdapat suara tambahan
C)    Sistem pencernaan
-  Inspeksi : mukosa bibir ananemis, tidak terdapat stomatitis, turgor kulit abdomen elastis, bentuk abdomen simetris
-  Auskultasi: bunyi bising usus normal 8-12x/menit
-  Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada area abdomen, tidak terdapat asites
-  Perkusi: Bunyi perkusi abdomen timpani
D)    Sistem persyarafan
Nervus I (olfaktorius)                      :  klien dapat mencium bau-bauan
Nervus II (optikus)                          :  klien dapat melihat pada jarak 2m
Nervus III (okula motorius)            :  klien dapat menggerakan bola mata kesamping atas
Nervus IV (traklearis)                      :  klien dapat menggerakkan bola mata ke atas dan kebawah normal
Nervus V (trigeminus)                     :  pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip
Nervus VI (abdusen)                       :  klien dapat menggerakkan bola mata ke samping
Nervus VII (facialis)                       :  klien dapat membedakan rasa manis dan asin
Nervus VIII (akustikus)                  :  pendengaran klien baik saat ditanya oleh pengkaji
Nervus IX (glosofaringeus)             :  klien dapat menelan dengan baik
Nervus X (vagus)                            :  klien dapat membuka mulutnya dengan baik
Nervus XI (spinal accesory)            :  klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri
Nervus XII (hipoglesal)                   : pergerakan klien lemah dan tidak bebas
E)     Sistem penglihatan
Bentuk mata simetris, warna sklera putih, tidak adanya kelainan pada mata, reflek mengedipkan mata normal, dapat merapatkan mata.
F)     Sistem pendengaran
Bentuk telinga simetris, tidak adanya nyeri tekan, tidak terdapat serumen, fungsi pendengaran baik
G)    Sistem perkemihan
Produksi urin biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan, kecuali penyakit gout sudah mengalami komplikasi ke gijal berupa pielonefritis, batu asam urat ,dan GGK yang akan menimbulkan perubahan fungsi pada sistem ini
H)    Sistem muskuloskeletal
Pada pengkajian ini ditemukan Look: keluhan nyeri sendi yang merupakan keluhan utama yang mendorong klien mencari pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya).
Nyeri ini biasaya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang menimbulkan nyeri yang lebuh dibandingkan dengan gerakan yang lain. Deformitas sendi (temuan tofus) terjadi dengan temuan salah satu pergelangan sendi secara perlahan membesar. feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak. Move: hambatan gerakan sendi biasanya semakin memberat
I)       Sistem endokrin
Sering ditemukan keringat dingin, dan pusing karena nyeri.
J)       Sistem integumen
Kulit biasanya mengalami perubahan warna menjadi merah pada area yang  membengkak.



















·         Pola kebiasaan sehari-hari
No
Pola
Sebelum sakit
Saat sakit
1.
Makan dan minum
Frekuensi
Alergi
Makanan yang tidak disukai
Alat bantu makan

3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

3x/hari
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
2.
Istirahat dan tidur
Siang
Malam

±        2 jam
±        7 jam

±        2-3 jam
±        7-8 jam
3.
Personal higiene
·  Mandi
frekuensi
·  Oral higiene
frekuaensi
·  Cuci rambut
Frekuensi


2x/hari

2x/hari

3x/minggu


1x/hari

Tidak pernah

Tidak pernah
4.
Eliminasi
·   BAK
Frekuensi
Warna
Penggunaan alat bantu
·   BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi


±        3-5x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan

±        1-2x/hari
kuning
padat


±        2-4x/hari
Kuning jernih
Tidak menggunakan

Tidak tentu
Kuning
padat
5.
Pola aktivitas

terbaring



A.  Data Psikologis
1.      Status emosi
Klien mampu mengontrol emosinya, jika marah klien memilih untuk diam
2.      Kecemasan klien
Tingkat kecemasan klien sedang
3.      Konsep diri
a.       Citra tubuh : klien menyukai bagian bentuk tubuhnya yaitu mata
b.      Identitas diri : klien merasa senang menjalani profesinya
c.       Peran : peran klien di dalam keluarganya ( mis: ayah , ibu, anak)
d.      Ideal diri : klien berharap penyakit di deritanya bisa cepat sembuh
e.       Harga diri: klien di sekitar
B.  Data Sosial
1.      Pola komunikasi
Pasien dapat berkomunikasi dengan jelas
2.      Pola interaksi
Pasien berinteraksi dengan keluarga dan perawat dengan baik dan jelas
C.  Data Spiritual
Klien mengatakan pada saat sebelum sakit dapat melaksanakan aktivitas ibada tetapi saat di rumah sakit aktivitas ibadah belum dapat dilakukan karena alasan kondisinya.

D.  Data penunjang
1.      Kadar asam urat serum meningkat
2.      Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat 
3.      Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat
4.      Analisis cairan synovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat monosodium yang membuat diagnosis
5.      Sinar x sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubhan sendi



E.   Analisa Data
No
Data
Etiologi
Masalah keperawatan
1.
DS: pasien mengatakan nyeri
DO: pasien terlihat meringis
Skala nyeri 8
Respons inflamasi meningkat

Pembesaran dan penonjolan  sendi

Nyeri hebat

nyeri berhubungan dengan peradanagn/inflamasi

2
DS : pasien mengatakan tidak bisa jalan
DO : pasien tidak bisa berjalan
Pembesaran dan penonjolan  sendi

Deformitas sendi

Kekakuan sendi

Hambatan mobilitas fisik


Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot


F. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri b.d inflamasi/peradangan
2. Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot






G. Rencana keperawatan
Diagnosa
NOC
NIC
Rasional
Nyeri b.d inflamasi/peradangan
setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam proses inflamasi berhenti dan berangsur-angsur sembuh.
Kriteria hasil :
-mampu mengontrol nyeri
- melaporkan bahwa nyeri berkurang
- mampu megenali nyeri
- menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang


-       Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presifitasi
-       Lakukan teknik relaksasi napas dalam
-       Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk dikursi , tingkatkan istirahat tidur sesuai indikasi
-       Berikan massase yang lembut
-       Libatkan kembali aktivitas hiburan sesuai untuk aktivitas individu
-       Kolaborasi dokter untuk pemberian obat analgetik

-   Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan progam
-   Pada penyakit berat ini, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi cidera
-   Meningkatkan relaksasi/mengurangi tegangan otot
-   Memfokuskan kembali perhatian, emme berikan stimulasi,dan meningkatkan rasa percayadiri
Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot
Setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam kelemahan pasien dapat teratasi
Criteria hasil : KO 5-5-5-5, pasien mengatakan tidak lemas
-       Kaji tingkat inflamasi / rasa sakit pada sendi
-       Pertahankan tirah baring/duduk jika perlu
-       Bantu dengan rentang gerak aktif-pasif
-       Ubah posisi dengan sering

-    Tingkat aktivitas bergantung pada perkembangan atau resolusi dari peradangan
-    Istirahat sistemik dianjurkan selama meksesarbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan, memepertahankan kekuatan  otot
-    Mempertahankan atau meningkatkan
Fungsi sendi, kekeuatan otot, dan stamina umum
-    Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien


F.   Evaluasi
Diagnosa Keperawatan
Evaluasi
Paraf
Nyeri b.d inflamasi/peradangan
Nyeri berkurang

Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan tonus otot
Pasien mampu berjalan





BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut : 
1.      Asam urat adalah hasil akhir dari katabolisme (pemecahan) purin. Purin adalah salah satu kelompok struktur kimia pembentuk DNA.
2.      Asam urat dikeluarkan dalam tubuh melalui feses (kotoran) dan urin, tetapi karena ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat yang ada menyebabkan kadarnya meningkat dalam tubuh. Hal lain yang dapat meningkatkan kadar asam urat adalah kita terlalu banyak mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung banyak purin. Asam urat yang berlebih selanjutnya akan terkumpul pada persendian sehingga menyebabkan rasa nyeri atau bengkak. 
3.      Gejala Asam Urat seperti ; kesemutan dan linu, nyeri terutama malam hari atau pagi hari saat bangun tidur, sendi yang terkena asam urat terlihat bengkak, kemerahan, panas dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.
4.2 SARAN
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :
1.      Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.
2.      Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan rheumatoid artritis maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis.


DAFTAR PUSTAKA
·         Amin Huda Nuratif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jilid 2
·         Brunner dan suddath. 2001. keperawatan medikal bedah edisi 8 vol.2. Jakarta: EGC
·         Elliot Chang Daly. 2009. Patofisiologi. Jakarta : ECG


Tidak ada komentar:

Posting Komentar